Selasa, 20 Januari 2009

Pantun

Sekilas Tentang Pantun

Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama. Lazimnya pantun terdiri atas empat larik(atau empat baris bila dituliskan), bersajak ab-ab ataupun aa-aa. Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis.

Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali tentang alam (flora dan fauna), dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud. Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.

Karmina dan Talibun merupakan bentuk puisi lain yang mirip dengan pantun, dalam artian memiliki bagian sampiran dan isi.

Struktur Pantun

Menurut Sutan Takdir Alisjahbana fungsi sampiran terutama menyiapkan rima dan irama untuk mempermudah pendengar memahami isi pantun. Ini dapat dipahami karena pantun merupakan sastra lisan.

Meskipun pada umumnya sampiran tak berhubungan dengan isi terkadang bentuk sampiran membayangkan isi. Sebagai contoh dalam pantun ini:

Air dalam bertambah dalam

Hujan di hulu belum lagi teduh

Hati dendam bertambah dendam

Dendam dahulu belum lagi sembuh

Beberapa sarjana Eropa berusaha mencari aturan dalam pantun maupun puisi lama lainnya. Misalnya satu larik pantun biasanya terdiri atas 4-5 kata dan 8-12 suku kata. Namun aturan ini tak selalu berlaku.

Pantun Adat

Menanam kelapa di pulau Bukum
Tinggi sedepa sudah berbuah
Adat bermula dengan hukum
Hukum bersandar di Kitabullah

Ikan berenang didalam lubuk

Ikan belida dadanya panjang

Adat pinang pulang ke tampuk

Adat sirih pulang ke gagang

Lebat daun bunga tanjung

Berbau harum bunga cempaka

Adat dijaga pusaka dijunjung

Baru terpelihara adat pusaka

Bukan lebah sebarang lebah

Lebah bersarang dibuku buluh

Bukan sembah sebarang sembah

Sembah bersarang jari sepuluh

Pohon nangka berbuah lebat

Bilalah masak harum juga

Berumpun pusaka berupa adat

Daerah berluhak alam beraja

Pantun Agama

Banyak bulan perkara bulan
Tidak semulia bulan puasa
Banyak tuhan perkara tuhan
Tidak semulia Tuhan Yang Esa

Daun terap diatas dulang

Anak udang mati dituba

Dalam kitab ada terlarang

Yang haram jangan dicoba

Bunga kenanga diatas kubur

Pucuk sari pandan Jawa

Apa guna sombong dan takabur

Rusak hati badan binasa

Anak ayam turun sepuluh

Mati seekor tinggal sembilan

Bangun pagi sembahyang subuh

Minta ampun kepada Tuhan

Asam kandis asam gelugur

Ketiga asam si riang-riang

Menangis mayat dipintu kubur

Teringat badan tidak sembahyang

Pantun Budi

Bunga cina diatas batu
Daunnya lepas kedalam ruang
Adat dunia memang begitu
Sebabnya emas budi terbuang

Diantara padi dengan selasih

Yang mana satu tuan luruhkan

Diantara budi dengan kasih

Yang mana satu tuan turutkan

Apa guna berkain batik

Kalau tidak dengan sujinya

Apa guna beristeri cantik

Kalau tidak dengan budinya

Sarat perahu muat pinang

Singgah berlabuh di Kuala Daik

Jahat berlaku lagi dikenang

Inikan pula budi yang baik

Anak angsa mati lemas

Mati lemas di air masin

Hilang bahasa karena emas

Hilang budi karena miskin

Pantun Jenaka

Dimana kuang hendak bertelur
Diatas lata dirongga batu
Dimana tuan hendak tidur
Diatas dada dirongga susu

Elok berjalan kota tua

Kiri kanan berbatang sepat

Elok berbini orang tua

Perut kenyang ajaran dapat

Sakit kaki ditikam jeruju

Jeruju ada didalam paya

Sakit hati memandang susu

Susu ada dalam kebaya

Naik kebukit membeli lada

Lada sebiji dibelah tujuh

Apanya sakit berbini janda

Anak tiri boleh disuruh

Orang Sasak pergi ke Bali

Membawa pelita semuanya

Berbisik pekak dengan tuli

Tertawa si buta melihatnya

Ada apa diseberang itu
Mentimun busuk dimakan kalong
Ada apa diseberang itu
Bujang bungkuk gadis belong

Pantun Kepahlawanan

Adakah perisai bertali rambut
Rambut dipintal akan cemara
Adakah misai tahu takut
Kamipun muda lagi perkasa

Hang Jebat Hang Kesturi

Budak-budak raja Melaka

Jika hendak jangan dicuri

Mari kita bertentang mata

Kalau orang menjaring ungka

Rebung seiris akan pengukusnya

Kalau arang tercorong kemuka

Ujung keris akan penghapusnya

Redup bintang haripun subuh

Subuh tiba bintang tak nampak

Hidup pantang mencari musuh

Musuh tiba pantang ditolak

Esa elang kedua belalang

Takkan kayu berbatang jerami

Esa hilang dua terbilang

Takkan Melayu hilang dibumi

Pantun Kias

Ayam sabung jangan dipaut
Jika ditambat kalah laganya
Asam digunung ikan dilaut
Dalam belanga bertemu juga

Berburu kepadang datar

Dapatkan rusa belang kaki

Berguru kepalang ajar

Bagaikan bunga kembang tak jadi

Anak Madras menggetah punai

Punai terbang mengirap bulu

Berapa deras arus sungai

Ditolak pasang balik kehulu

Kayu tempinis dari kuala

Dibawa orang pergi Melaka

Berapa manis bernama nira

Simpan lama menjadi cuka

Disangka nenas ditengah padang

Rupanya urat jawi-jawi

Disangka panas hingga petang

Kiranya hujan tengah hari

Pantun Nasihat

Kayu cendana diatas batu
Sudah diikat dibawa pulang
Adat dunia memang begitu
Benda yang buruk memang terbuang

Kemuning ditengah balai

Bertumbuh terus semakin tinggi

Berunding dengan orang tak pandai

Bagaikan alu pencungkil duri

Parang ditetak kebatang sena

Belah buluh taruhlah temu

Barang dikerja takkan sempurna

Bila tak penuh menaruh ilmu

Padang temu padang baiduri

Tempat raja membangun kota

Bijak bertemu dengan jauhari

Bagaikan cincin dengan permata

Ngun Syah Betara Sakti

Panahnya bernama Nila Gandi

Bilanya emas banyak dipeti

Sembarang kerja boleh menjadi

Pantun Percintaan

Coba-coba menanam mumbang
Moga-moga tumbuh kelapa
Coba-coba bertanam sayang
Moga-moga menjadi cinta

Limau purut lebat dipangkal

Sayang selasih condong uratnya

Angin ribut dapat ditangkal

Hati yang kasih apa obatnya

Ikan belanak hilir berenang

Burung dara membuat sarang

Makan tak enak tidur tak tenang

Hanya teringat dinda seorang

Anak kera diatas bukit

Dipanah oleh Indera Sakti

Dipandang muka senyum sedikit

Karena sama menaruh hati

Ikan sepat dimasak berlada

Kutunggu di gulai anak seberang

Jika tak dapat dimasa muda

Kutunggu sampai beranak seorang

Pantun Peribahasa

Berakit-rakit kehulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian

Kehulu memotong pagar

Jangan terpotong batang durian

Cari guru tempat belajar

Jangan jadi sesal kemudian

Kerat kerat kayu diladang

Hendak dibuat hulu cangkul

Berapa berat mata memandang

Barat lagi bahu memikul

Harapkan untung menggamit

Kain dibadan didedahkan

Harapkan guruh dilangit

Air tempayan dicurahkan

Pohon pepaya didalam semak

Pohon manggis sebasar lengan

Kawan tertawa memang banyak

Kawan menangis diharap jangan

Pantun Perpisahan

Pucuk pauh delima batu
Anak sembilang ditapak tangan
Biar jauh dinegeri satu
Hilang dimata dihati jangan

Bagaimana tidak dikenang

Pucuknya pauh selasih Jambi

Bagaimana tidak terkenang

Dagang yang jauh kekasih hati

Duhai selasih janganlah tinggi

Kalaupun tinggi berdaun jangan

Duhai kekasih janganlah pergi

Kalaupun pergi bertahun jangan

Batang selasih mainan budak

Berdaun sehelai dimakan kuda

Bercerai kasih bertalak tidak

Seribu tahun kembali juga

Bunga Cina bunga karangan

Tanamlah rapat tepi perigi

Adik dimana abang gerangan

Bilalah dapat bertemu lagi


Pantun Teka-teki

Kalau tuan bawa keladi
Bawakan juga si pucuk rebung
Kalau tuan bijak bestari
Binatang apa tanduk dihidung ?

Beras ladang sulung tahun

Malam malam memasak nasi

Dalam batang ada daun

Dalam daun ada isi

Terendak bentan lalu dibeli

Untuk pakaian saya turun kesawah

Kalaulah tuan bijak bestari

Apa binatang kepala dibawah ?

Kalau tuan muda teruna

Pakai seluar dengan gayanya

Kalau tuan bijak laksana

Biji diluar apa buahnya

Tugal padi jangan bertangguh

Kunyit kebun siapa galinya

Kalau tuan cerdik sungguh

Langit tergantung mana talinya ?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar