Selasa, 20 Januari 2009

Cerpen : Semalam di Pulau Khayalan

SEMALAM DI PULAU KHAYALAN

Teet…tet…tet…

Bel masuk kelas berdentang nyaring memenuhi seantero sekolah. Pada sebuah SMU yang merupakan salah satu SMU faforit di Wonogiri Kota. Anak-anak dengan santai berjalan memasuki ruang kelas masing-masing. Ada yang berjalan bergerombol sembari bergurau, sendirian saja, ada pula yang berdua dengan kekasih, namun tidak sedikit yang terburu-buru karena belum membuat PR. Di pos satpam beberapa anak termasuk aku tengah menikmati ‘sarapan’ dari Pak Herlan, satpam sekolah kami. Setelah beberapa menit, baru kami dibebaskan. Selanjutnya kami akan dipersilakan, atau tepatnya diwajibkan untuk menikmati tujuh macam hidangan berbeda yang tersaji setiap 45 menit. Begitu setiap harinya.

Anak-anak yang lain mempercepat langkahnya, berbeda denganku. Aku berjalan dengan malas. Jam pertama nanti Bu Sonya, guru yang kurang menyenangkan dimata murid-muridnya. Beliau menguasai kelas dengan cara yang keliru saat mengajar. Mengingatkan murid dengan gertakan, pandangan dengan mata melotot, atau bahkan dengan lemparan penghapus. Sehingga kebanyakan murid terutama di kelasku, tenang bukan karena memperhatikan, melainkan karena takut. Sungguh dua jam pelajaran Bu Sonya terbayang-bayang begitu membosankan dibenakku. Saat melewati depan kantin, hampir aku berbelok arah. Tapi langkahku terhenti saat terdengar teguran seseorang.

“Ayla, mau kemana kamu?”

“Eh, Pak Edo. Ee…e.. mau itu anu, mau ke kelas dong, Pak.” Jawabku gugup. Beliau menatapku curiga. Sebagai seksi kesiswaan, beliau yang paling sering memergoki aku dan teman-temanku membolos terutama di kantin.

“Ya sudah sana! Bapak tunggu sampai kamu masuk ke ruang kelas kamu.” Yang benar saja? Gagallah rencanaku untuk ‘cabut’ ke kantin. Belum lagi dikelas aku harus mendengar omelan dari Bu Sonya.

“Seharusnya kamu kasihan pada orang tuamu. Mereka banting tulang mencari uang untuk biaya sekolah kamu. Sedangkan kamu malah seenaknya. Datang terlambat, bahkan kamu juga sering bolos kan?!”

“Iya, Bu. Saya minta maaf.”

“Maaf saja tidak cukup. Kamu harus memperbaiki sikap dan kelakuanmu itu. Zaman sekarang ini biaya sekolah mahal. Buku-buku pelajaran apalagi. Coba, apa pernah kamu membuka buku pelajaran yang kamu beli mahal-mahal? Pasti belum, dan hanya kamu gunakan untuk bantal tidur…” dan masih banyak lagi yang beliau katakan. Bagai naskah argumentasi.

Perduli apa dengan mahalnya sekolah atau buku pelajaran. Aku tidak mau tahu dengan itu semua. Toh selama ini aku tidak pernah berniat untuk membeli buku atau tetek bengek lainnya yang berhubungan dengan sekolah. Aku hanya menurut saja pada aturan dan bagaimana seharusnya sebagai seorang siswa. Untuk mahal atau tidaknya itu urusan orang tuaku. Bukankah memenuhi kebutuhan anak merupakan suatu kewajiban bagi mereka. Lagipula untuk seorang direktur sebuah perusahaan ternama macam ayahku, itu semua bukan hal yang berarti. Orang tuaku, mereka juga tidak akan tahu dan tidak akan perduli dengan nilai-nilai mata pelajaranku. Lagipula bila tahu biaya sekolah dan buku mahal, lalu kenapa tidak diringankan? Diskon misalnya. Atau malah tidak bayar sekalian, alias gratis. Dengar-dengar biaya sekolah akan digratiskan, tapi sampai sekarang kami masih saja ditagih biaya ini itu.

Saat istirahat pertama di kantin. Aku pesan makanan dan minuman berdua dengan Arini, tapi aku sedikit kaget saat dia menolak. Padahal biasanya kami selalu makan bersama saat istirahat. Katanya dia akan berhemat, uang jajannya akan ditabung untuk membayar buku-buku pelajaran yang sudah sejak lama ditagih oleh bendahara. Entah kenapa aku selalu merasa tidak enak saat mendengar segala hal tentang biaya sekolah.

“Jadi dari dulu kamu belum bayar?” tanyaku, diikuti anggukan pelan darinya.

“Aku nggak berani minta uang sama orang tuaku, Ay.”

“Kenapa nggak berani?Lagian uang itu kan buat bayar sekolah, bukan buat macam-macam. Memangnya orang tua kamu galak banget ya?”

“Aku nggak berani karena aku takut menyusahkan mereka. Mereka sudah bekerja keras banting tulang untuk mencukupi kebutuhanku dan keluarga, tapi masih saja semua itu tak cukup. Ibuku telah menjual cincinnya untuk membayar biaya sekolah tiga bulan kemarin. Sekarang apa lagi yang akan beliau pertaruhkan untuk membayar buku-buku itu, Ay?” dadaku sedikit bergetar mendengar kisah Arini barusan. Getir suaranya terdengar memilukan. Sesulit itukahbaginya dan keluarga untuk membayar biaya sekolah yang selama ini kuanggap begitu enteng?

Hal ini makanan Arini aku yang bayar. Dia sangat berterima kasih, sedangkan aku masih saja terbayang akan kesulitannya. Mana mungkin tahan bila setiap hari harus puasa di sekolah, dan bagi anak seusia kami pasti banyak godaan untuk membeli barang-barang seperti perbnak pernik yang sebenarnya tidaklah penting.

Bel masuk kelas kembali berbunyi dengan lantangnya. Tapi kami tidak segera beranjak meninggalkan kantin. Berikutnya, jam pelajaran Pak Cipto. Malas benar dengan guru satu itu. Pikirku lebih baik bersantai di kantin. Arini menurut saja aku ajak bolos, lantaran aku menanggung jajannya. Dan perlu diketahui bahwa tidak hanya kami berdua disini. Melainkan beberapa anak yang mulai malas belajar berkumpulnyapun di kantin ini. Diantaranya tiga orang gadis yang duduk dibelakangku. Tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan mereka. Katanya, salah satu teman sekelasnya ada yang memutuskan hubungan dengan sekolah ini dan tidak akan meneruskan perjuangan disini. Ia akan berhenti karena orang tuanya tidak mampu lagi membiayai uang sekolahnya. Padahal anak itu sudah kelas dua, sebentar lagi ia naik ke kelas tiga dan kurang lebih setahun kemudian ia akan mengikuti ujian kelulusan. Ternyata tidak hanya Arini yang mempunyai problem demikian. Selain dia, masih banyak yang kesulitan dan bahkan harus putus sekolah karena mahalnya biaya sekolah dan buku-buku pelajaran. Sungguh aku tidak pernah membayangkan hal demikian sebelumnya. Beruntungnya aku terlahir disebuah keluarga yang mapan. Hingga aku tidak perlu berpusing-pusing lagi memikirkan biaya sekolahku.

Sepulang sekolah aku sempatkan untuk jalan-jalan sebentar. Sudah lama aku tidak ke salon. Rasanya rambutku ini sudah sangat gatal karena hampir sebulan aku bolos cream bath. Tidak ada salahnya memanjatkan diri setelah seharian menghadapi buku-buku pelajaran. Meskipun beberapa jam aku sempat bolos. Di jalan saat lampu merah, pandanganku tertuju pada sekumpulan anak seusiaku yang berpakaian kumal penuh tambalan, dan badannya juga kotor tak terawat. Diantara mereka ada yang membawa kotak semir sepatu, ada pula kotak kayu berukuran lumayan besar yang diberi lubang bulat dan senar yang dikaitkan membujur pada salah satu sisinya menyerupai gitar, dan yang baru datang itu membawa sebuah kantong plastik bekas permen yang digunakannya untuk memungut rupiah demi rupiah saat mengamen. Tak jauh dari sekumpulan remaja malang itu, berbaring seorang anak kecil di depan bangunan bekas kios yang sudah tak terpakai. Tubuhnya kurus kerempeng, wajahnya pucat. Hatiku teriris juga menyaksikan pemandangan itu. Hampir aku keluar dari mobil dan menghampirinya, saat seorang wanita tengah baya mendekati dan menggendongnya, kemudian mereka pergi.

Entah mengapa akhir-akhir ini aku sangat mudah terharu. Aku yang tidak perduli akan keadaan di sekitarku, kini mulai tertarik dengan pemandangan seperti di lampu merah. Aku mulai berpikir, mungkin mereka merupakan suatu gambaran dari kegagalan ‘Tuntas Buta Aksara’. Aku baru sadar, bahwa bagi mereka biaya sekolah sangatlah mahal. Tapi bukankah tidak seharusnya mereka meninggalkan profesi sebagai siswa, dan menyandang profesi baru sebagai pengamen, pengemis, anak jalanan, gelandangan, atau apa saja orang menyebutnya. Dalam hati kecilku muncul suatu tekat untuk mengupayakan masa depan mereka. Sungguh mengejutkan, seorang Ayla yang acuh, tak peduli, dan sering bolos pelajaran, menyimpan harapan demi kemajuan masa depan anak bangsa dan menjadi malaikat bagi banyak anak bernasib kurang baik. Mungkinkah Ayla dapat mewujudkan harapannya?

*****

Matahari telah tinggi. Sinarnya menerobos masuk lewat lubang bilik kedalam sebuah gubuk reot di bawah jembatan. Gubuk berukuran tak lebih dari 4 x 4 m itu dihuni oleh dua orang gadis berusia kurang lebih 15 tahun.

“Ay, Ayla bangun!” salah satu dari kedua gadis itu membangunkan gadis yang satu lagi. Mengguncang-guncangkan tubuh temannya itu.

“Ah, Airin?”

“Baru juga tidur semalam, masa dah lupa sama teman sendiri.”

“Astaghfirullah…” dielusnya dadanya. Menyadari akan apa yang dialaminya barusan. Sesaat kemudian ia tersadar. “Jadi yang tadi itu cuma mimpi?”

“Memangnya kamu mimpi apa?”

“Aku jadi anak orang kaya, aku sekolah, naik mobil bagusm keluar masuk salon, bahkan aku sering bolos pelajaran…”

“Payah kamu. Kalau aku bisa sekolah aku nggak akan bolos.”

“Aku juga nggak. Aku dalam mimpi punya harapan untuk bisa bantuin anak-anak jalanan yang lain biar bisa sekolah.”

“Terus, usahamu berhasil?” tanya Airin yang ternyata mereka juga merupakan salah satu bagian dari gambaran kegagalan ‘Tuntas Buta Aksara’. Ayla tak segera menjawab, malah menempeleng kepala Airin.

“Gara-gara kamu, aku jadi nggak tahu apa aku bisa bikin mereka sekolah lagi.”

Sesaat mereka terhanyut dalam keheningan, dengan pikiran masing-masing. Mungkin mereka tengah membayangkan mimpi Ayla barusan. Menit berikutnya mereka saling pandang kemudian tertawa lepas.

Pegimana caranya tuh, gembel bisa sekolah? Mimpi kamu ngaco banget. Lain kali mimpi yang bagusan dikit napa, Ay?”

“Tapi di mimpi tadi, kamu tetep jadi gembel lho. Nggak mampu bayar duit sekolah” mereka tertawa lepas.

“Pilih beli buku pelajaran perut laper atau beli sepiring gorengan, Rin?”

“Beli buku, pinter belum tentu laper pasti. Beli gorengan, jelas kenyang tuh.” sekali lagi tawa mereka makin keras, makin lepas. Walau dalam hati terselip sedikit getir kesedihan.

Tak dapat dipungkiri. Tuhan telah menggariskan pada mereka demikian. Maka demikian pula yang harus mereka jalani. Dengan lapang, dengan dada yang dibusungkan, dengan senyum yang tetap terkembang, dan dengan keikhlasan, yakin bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi makhluk-Nya. Sesekali Dia memainkan mereka dalam mimpi hingga mereka terbuai. Namun nasib tidak akan berubah secepat pergantian detik, dan tidak pula berubah semudah membalikkan telapak tangan. Biarpun hidup serba kekurangan yang penting bagi mereka adalah sampai sekarang mereka masih diberi kesehatan. Dan mereka madih diberi kesempatan untuk saling melindungi satu sama lain. Dalam dinginnya angin malam yang menerobos lubang-lubang bilik, mereka nikmat kehangatan sebuah persahabatan. Yang sampai kapanpun akan terus terjaga.

“Ya sudah, ayo siap-siap. Nanti kalau kita telat penjaga TPS keburu datang dan mengusir kita.” kata Arini sembari menggendong keranjang dari anyaman bambu.

“Ayla, jangan bengong! Ayo berangkat!”

“Hah, kemana?”

“Ke sekolah.” lepas lagi tawa mereka.

**selesai**

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar