Rabu, 14 Januari 2009

Kumpulan Puisi Pribadi "Gang Wisnu 18B"

Tanpa Judul

Maaf saya tidak dapat menemukan judul yang tepat
untuk untaian kalimat yang hendak saya tulis
hari-hariku dipenuhi oleh suara-suara tak bergetar seperti kemarin ....
getaran itu semakin lama semakin sayup... perlahan
getaran itu melemah dan berhenti
seperti denyut nadi anak-anak ingusan
tak terdengar mereka oleh gesekan angin

Jika demokrasi adalah judul terindah bagi suatu bangsa
maka bangsaku hendak menggunakannya pula
mereka mengorbankan jiwa dengan sukarela atau dengan pesan
mereka sama-sama berdarah dan bahkan hilang oleh dahaga tanah
aliran sari-sari makanan kebebasan tak pernah sampai
tersebar ke seluruh tubuh
berhenti mereka di antara lembaran-lembaran kertas berstempel

Maaf jika hidupku adalah demokrasi
nampaknya ia tak punya judul lagi
kadang saya merasa sangat berharga dan ingin hidup
seperti jiwa Chairil Anwar
namun kadang saya menemukan ketidakbernilaian
yang mendorongku untuk mengakhiri hidup
the object of my affection telah mati
bersama judul tulisan-tulisan tentang demokrasi yang semakin kabur

VIRUS ITU NAMANYA MISKIN


Gawat…..

Sungguh Gawat

Kemiskinan itu bagai virus…

Dalam hitungan detik kita lihat betapa kemiskinan merajalela

Dalam hitungan menit kita rasa kemelaratan membabi buta

Di suatu tempat kita mendengar orang-orang mengejar rupiah

Yang disebar pesawat dari angkasa

Di tempat lain puluhan nyawa melayang demi uang tak seberapa

Perempuan tua, ibu muda tak peduli peluh mereka

Belum lagi....busung lapar...kurang gizi...

Ah...lagi-lagi itu...setumpuk berita dan pemandangan tidak sedap

Selalu menerpa telinga dan mata kita

Tetapi.......

Di tempat lain lagi..orang-orang sibuk menumpuk harta

Belanja dengan uang milik miskin papa

Berpesta pora di atas ak kaum duafa

Sungguh ironis...

Tak cukupkah semua itu membuka mata

Tak cukupkah semua itu membuka hati

Sudah butakah mata mereka..

Sudah tulikah telinga mereka..

Sudah tak punya hatikah mereka

Mau jadi apa negeri yang katanya kaya ini

Jika para pemimpinnya sibuk memikirkan diri dan kelompoknya

Mau jadi apa negeri yang katanya makmur ini

Kalau penguasanya sibuk menumpuk harta

Mau jadi apa negeri kita ini

Hanya kemiskinan yang kita dengar di mana-mana

Keyakinan

Kemana lagi kerdip mata ini harus kuikat

Toh tak layak jika aku hanya berdendang tanpa lagu

Hanya sekedar mempermainkan suara-suara hati

Toh kamu tentu tahu itu

Aku berani melangkah

Jika titian itu lempang

Dan arus kali itu kering

Sementara kamu tahu juga

Terlalu terjal jalan yang meski aku lalui

Terlalu dalam jurang yang meski aku turuni

Terlalu tinggi tebing yang meski aku daki

Terlalu luas samudera yang meski aku arungi

Tapi biarlah

Untuk sementara waktu kita jalani

Apa yang meski kita jalani

Tak usah berharap terlalu tinggi

Bukannya pasrah terhadap keadaan

Lebih dari itu kita mengerti akan keadaan

Aku yakin awal ada akhir

Aku yakin pangkal ada ujung

Semua akan bisa kita lewati


Pengadilan Diri Sendiri

Adakalanya setiap malam
Sebelum kita terlelap
Jiwa kita diambil yang kuasa
Karena tidur itu mati jiwa....
kita perlu mengkhisab
terhadap apa yang telah kita lakukan hari ini
Apakah kebaikan.....
Ataukan keburukan yang telah banyak kita lakukan
Jika kita timbang......lebih banyak mana
Kebaikankah atau sebaliknya...
Seandainya kebaikan yang banyak kita lakukan hari ini
Yakinlah bahwa dalam tidur kita akan ketemu tujuh bidadari
Yang akan mengitari kita dengan tujuh aroma wangi
Tapi ....
Jika keburukan yang banyak kita lakukan hari ini
Yakinlah juga bahwa dalam tidur kita akan bertemu
Ratusan hantu yang siap menerkam kita
Meluluhlantakkan raga kita

Adakalanya kita perlu mengkhisab diri sendiri

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar