Selasa, 20 Januari 2009

Cerpen : Sejuta Melodi di Bulan Maret

SEJUTA MELODI DI BULAN MARET


“Kujatuh cinta lagi …”

Tuk kesekian kali ….

Kuterlahir untukmu, menuju indah dunia

Dambaanku, penuntun jalanku

Terangi malam tak lagi gelap

Berhiaskan kasih nan suci …”

Masih seperti kematin. Lagu itu-itu saja yang dia nyanyikan dua hari belakangan ini. Pada sebuah rumah mungil di Jl. Romance, kurang lebih 50 meter dari sebuah SMU yang merupakan SMU faforit di kota itu. Suara cempreng yang khas, bersumber dari kamar mandi. Dua orang gadis yang tinggal serumah dengannya berdiri mematung tepat di depan pintu, sembari menempelkan daun telinganya. Gadis yang tengah mandi tidak menyadari keberadaan dua orang temannya itu. Saat dia keluar dari kamar mandi, dua gadis tadi menyeretnya ke kamar. Kemudian mereka memaksanya untuk bicara. Tepatnya bercerita. Tapi setiap pertanyaan yang terlontar dari dua gadis tadi, selalu dijawab dengan senyum. Menjengkelkan.

“Ayo donk, Nay cerita ke kita!”

“Kayaknya bener kamu lagi jatuh cinta. Siapa Nay? Dia siapa? Jangan senyam senyum gitu, jawab!”

Gadis yang dipanggil Nayla masih tersenyum. Matanya menerawang, handuk yang masih basah dipekuknya. Memang dia tengah jatuh cinta. Ini dirasakannya sejak beberapa hari lalu, tepatnya disadarinya. Seorang Nayla, 15 tahun pengalaman hidupnya. Dia masih belum banyak makan asam garam kehidupan. Masih ada banyak hal yang belum dimengertinya. Tapi sial cinta, dia terlampau mahir. Dia juga lebih peka, lebih bisa membedakan dan menyadari bahwa yang dirasakannya adalah cinta dan bukan sekedar rasa suka atau kagum. Dia yakin dan begitu mantap saat mengatakan pada hatinya bahwa ia tengah jatuh cinta.

Dialah seorang Fabian. Pria yang belum genap dua bulan dikenalnya. Febian dinilai sebagai seorang pria yang baik, lembut namun tegas, dan juga komunikatif. Nayla tidak pernah mengundang rasa itu datang ke hatinya, namun Nayla juga tak kuasa untuk mengusirnya. Dan ia pun kembali bersenandung.

“Biarkanku menggapaimu

Memelukmu, memanjakanmu ….”

“Ih, Nayla. Mau cerita enggak ?” Beti mulai gemas.

“Santi, Beti. Kalian teman terbaikku. Nggak sedikit yang kalian ceritakan dan kalian bagi denganku. Aku juga mau berbagi dengan kalian. Memang benar aku lagi jatuh cinta. Dia Fabian.” dan dimulailah cerita panjangnya sore itu. Dua sahabat gadisnya mendengarkan dengan khusyu’. Begitu tertarik.

Mereka bertiga tinggal bersama belum genap satu tahun. Tepatnya sejak mereka sama-sama memasuki tahu ajaran baru di sekolah yang baru pula. Sekarang mereka kelas satu SMU. Banyak hal mereka lakukan bersama. Banyak persamaan namun bukannya tidak ada perbedaan antara ketiganya. Berselisih pendapat kadang-kadang, tapi dapat segera teratasi dengan mudahnya. Masing-masing memiliki kepribadian yang berbeda-beda, begitu Tuhan menciptakan mereka.

Santi lebih dulu kenal dengan Nayla. Dia lebih dewasa dari kedua teman gadisnya itu. Dia juga lebih berpengalaman soal cinta. Selain bertanggung jawab, disiplin, dia juga pintar dalam hal pelajaran. Tapi tidak jarang dua juga bertingkah konyol seperti dua teman gadisnya. Dan yang paling gila dari ketiganya adalah Beti. Begitu banyak hal gila dimilikinya, tanpa ada Beti dua gadis yang lain tidak akan dapat menggila dengan lepasnya. Begitu menarik kisah hidup mereka untuk disimak. Karena mereka memang tidak ingin hidup yang hanya sekali ini berjalan datar dan biasa-biasa saja. Sedangkan Nayla sendiri, tidak banyak pengalamannya, sifatnya yang terlalu mencari perhatian kadang membuat teman-temannya gemas. Tapi dibalik sifat kekanak-kanakkannya itu, Nayla memiliki hati yang lembut. Dia berani mengambil resiko dari apa yang dia perbuat. Dengan sifat dan kepribadian yang bervariasi itu, mereka dapat menjalin persahabatan dengan begitu erat tanpa membutuhkan waktu yang lama. Mereka berbagi dalam hal apapun. Pelajaran sekolah, keluarga, teman-teman yang lain, dan tentu hal percintaan seperti sekarang ini.

Diantara ketiganya, Nayla dianggap paling kecil, karena fisiknya, karena segala sifat dan tingkah lakunya, juga berdasarkan pada kenyataan yang ada. Santi telah berdua dengan dia yang disana, begitupun Beti yang sudah berjalan lebih dari tiga bulan. Sedangkan Nayla… Maka dari itu, kedua gadis ini turut senang mendengar berita jatuhnya Nayla dalam jurang asmara yang konon begitu curam, dan bila terjatuh pada tempat yang tidak tepat akan terasa nyeri yang begitu sakit. Dan Santi juga Beti telah berjanji pada Nayla, maupun pada diri mereka sendiri bahwa mereka akan membantu Nayla. Demi mendapatkan pria itu.

Begitulah cerita seorang gadis pada dua teman gadisnya. Di senja yang indah, di awal bulan Maret.

*****

Kriiiiiiing …….. !!!!

Jam beker di kamar mandi Beti berdering nyaring. Gadis yang pada detik sebelumnya masih lelap, kini ternyenyak saat mendapati jarum jam telah menunjukkan angka 06.30. Sedangkan di dapur, Santi sibuk menyiapkan sarapan. Sembari mengapit ponsel di telinganya demi berbincang dengan yang terkasih di seberang sana. Tapi dimana gadis yang satu lagi, yang suka menyanyi di kamar mandi?

“Pagi Santi”

“Pagi juga. Beti mana?” sahut Santi setelah menutup ponselnya.

“Pagi semua” sebelum Nayla menjawab, yang dimaksud telah muncul. Kelihatan begitu tergesa-gesa. Diteguknya setengah gelas susu panas, dan dicomotnya roti dari tangan Nayla.

“Aah Beti…”

“Pelan-pelan donk, Bet.”

“Aku duluan ya, ada tugas jaga.” Dua gadis yang lain saling pandang, kemudian menggeleng.

Yang dimaksud tugas jaga adalah berdiri tegap di samping gerbang sekolah untuk mengamati dan memperhatikan murid-murid yang berseragam kurang lengkap. Tugas ini merupakan kewajiban setiap anggota ekstra kurikuler yang bersangkutan. Menurut cerita Beti dulu, dia dan kelompoknya akan mulai stand by di depan gerbang tepat pukul 06.00. Dan barang siapa terlambat akan dikenai sanksi berdasarkan lamanya ia terlambat. Jika tidak ada tugas jaga, seperti Nayla juga Santi yang enggan mengikuti ekskul tersebut, mereka lebih memilih berangkat siang. Dalam artian paling tidak sepuluh menit sebelum bel masuk kelas. Kecuali di hari-hari sibuk yang padat PR.

Lima menit meninggalkan pukul 10.00, tepatnya dua puluh menit setelah bel masuk kelas berdentang seusai jam istirahat pertama. Pelajaran selanjutnya ekonomi, tapi guru mata pelajaran tersebut tidak hadir. Akibatnya anak-anak terlantar, ada yang keluyuran ke perpus, ke kantin, ke toilet, atau hanya sekedar berjalan-jalan santai mengitari sekolahan. Dan tidak sedikit pula yang tergolek lemas di kelas. Seperti ketiga gadis dipojok belakang. Di kursi paling belakang, merupakan singgasana bagi Beti dan Gilang. Tapi berhubung Gilang yang merupakan anggota OSIS tengah menghadiri rapat, Beti harus menikmati jam kosong sendiri tanpa kekasihnya itu. Apalagi hari ini merupakan hari yang melelahkan baginya. Pagi tadi ia harus push up 30 kali, lantaran ia terlambat jaga 30 menit. Di kursi depannya Santi tengah mengutak atik HP, membalas pesan dari dia di seberang sana, yang tengah mencuri-curi kesempatan saat sedang pelajaran. Meskipun satu sekolah, Santi tidak berada di kelas yang sama saat sedang pelajaran. Meskipun satu sekolah, Santi tidak berada di kelas yang sama dengan Nugi, kekasihnya. Sedang disebelah Santi, duduklah seorang gadis yang tengah terlelap, Nayla. Tak ada yang bisa ia lakukan antara kedua temannya yang tengah kasmaran, selain tidur dan bermimpi indah tentang yang dirindukannya. Di pojok depan berkumpul Riri and the gank, sekitar empat orang, tengah membicarakan hal yang tidak jauh menyimpang dari gosip. Dan beberapa anak sibuk sendiri dengan kegiatan masing-masing. Dalam suasana yang tidak terlalu gaduh itu, tiba-tiba Nayla terhenyak. Kemudian berlari keluar kelas.

“Nay, mau kemana?” tanya Santi kaget.

“Aku mesti ngomong sama dia….”

Nayla berlalu setelah memberi jawaban yang cukup singkat. Entah apa yang dia maksud. Mungkinkah ia hanya mengigau, atau memang telah mendapat wangsit dari tidur nyenyaknya barusan? Tak ada yang bisa dilakukan Santi ataupun Beti. Mereka hanya bisa menggeleng-geleng, dan menarik nafas panjang setelah itu dikeluarkan lagi seleganya.

Selama dua jam, atau lebih tepatnya dua kali empat puluh lima menit anak-anak di kelas Nayla terlantar. Gilang telah kembali ke kelas, sedangkan Nayla masih belum diketahui rimbanya. Bahkan saat mata pelajaran berikutnya pun Nayla masih belum kembali. Hal ini membuat teman-temannya panik dan bingung. Hingga beberapa saat kemudian, saat Mr. sad (sebutan dari anak-anak untuk pak Sungkawa, guru Fisika) tengah berbicara bagaimana Einstein dapat menemukan rumusnya, seseorang mengetuk pintu dengan lembut.

“Nayla. Darimana saja kamu?”

“Maaf, Pak. Tadi saya kebelet ke belakang, jadi telat deh…”

“Ya sudah. Kali ini kamu saya maafkan, tapi kalau sampai terulang lagi kamu tidak boleh ikut pelajaran saya. Mengerti?! Sekarang sana duduk!” Nayla berjalan ke bangkunya. Bukannya merasa bersalah, dia malah senyum-senyum. Bahkan sampai bel pulang sekolah berdentang. Membuat Santi, Beti juga Gilang menjadi semakin bingung. Entah apa lagi yang terjadi pada gadis aneh ini.

Jarum jam menunjukkan angka 12.00. Bel pulang sekolah telah berbunyi. Sedikit mengherankan bagi anak-anak seantero sekolah, karena biasanya sekolah bubar pukul 13.00. Tapi tidak bagi yang telah mendapat bocoran dari anak OSIS, bahwa hari ini para guru akan menghadiri acara dinas. Termasuk Nayla cs yang mendapat bocoran dari Gilang. Anak-anak berhamburan keluar kelas. Anehnya, Nayla langsung berlari keluar kelas tidak seperti biasanya. Kembali Santi cs dibuat bingung olehnya.

“Mungkin emang lagi ada urusan kali. Jadi buru-buru gitu.”

“Mungkin juga sih, Gil. Ya udah pulang yuk, Bet!”

“Iya deh. Gilang ntar mampir dulu ya!” pria manis itupun mengangguk.

Ketiganya berjalan beriringan. Tak lebih dari sepuluh menit mereka sampai di rumah mungil Santi cs. Tidak jarang Gilang berkunjung ke rumah itu, bahkan bisa dikatakan sering. Meskipun jarak ke rumahnya cukup jauh, kurang lebih 10 km. Siang yang panas. Di serambi rumah terasa lebih sejuk karena banyak pohon yang tumbuh. Saat mereka tengah menikmati es jeruk dan kue buatan Santi, terdengar suara orang bersenandung.

“Satukanlah cinta kita

Walau hati ini lelah

Beranikan untuk jalani hidup

Dari semua kekuatan kita…”

Nayla berjalan riang ke serambi, menyongsong teman-teman tercintanya. Tersungging senyumannya yang manis dipipi. Dipeluknya teman-temannya yang tengah bingung melihat tingkah anehnya itu, kecuali Gilang yang kemudian bertanya.

“Kamu kenapa, Nay?”

“Aku baru jadian…”

“Apa? Jadian?” ketiga temannya seperti kor tanpa dirigen. Nayla kembali tersenyum. Riang benar hatinya saat ini. Akhirnya ia telah mendapatkan pria yang selama ini ia inginkan. Fabian.

“gila, cepet banget. Selamet ya, Nay?”

“Emang kapan jadiannya? Cerita donk.” Gilang begitu antusias.

“Tadi siang di sekolah.”

“Oou, jadi kamu telat ikut jamnya Mr. Sad gara-gara Fabian? Mang dimana dia nembak kamu? Atau kamu duluan yang nembak dia?”

“Gini temen-teman”, Nayla memulai kembali ceritanya siang ini. “Tadi di sekolah aku mimpi aneh banget, intinya aku harus nembak Fabian sebelum keduluan sama cewek lain. Ya, pas aku bangun aku langsung aja samperin dia.”

“Di toilet….” Mendengar jawaban Nayla tersebut, ketiga makhluk dihadapannya mengerutkan kening. Secara toilet putra dan putri di sekolah mereka berbeda. Jadi mana mungkin mereka bertemu di toilet. Dan Nayla pun mengerti, ia kembali melanjutkan ceritanya.

“Tadi aku ke toilet trus aku SMS dia, aku bilang kalau aku suka sama dia. Habis kalau untuk ketemu langsung aku nggak berani.”

“Jadi, lewat SMS?” tanya Santi, diikuti anggukan mantap dari Nayla.

“Tapi, aku bilang kalau aku nggak mau jadian lewat SMS. Aku maunya dia bilang langsung. Trus dia nanggepin, dan dia minta aku nunggu dia.”

Baik Santi, Beti maupun Gilang begitu antusias mendengar cerita sahabatnya itu. Meskipun sedikit konyol dan terdengar bodoh. Meskipun dia masih dalam tahap menunggu, akhirnya Nayla akan segera terbebas dari predikat jomblo yang sedang disandangnya sejak empat bulan ini.

Ini cerita seorang gadis yang tengah berbunga-bunga, pada ketiga sahabatnya diserambi rumah mungil.

*****

Sore yang cerah. Tak ada orang di rumah saat Santi pulang kencan. Beberapa kali dipanggil dua sahabatnya, tapi tak ada jawaban. Di pintu kulkas tertempel secarik kertas yang kemudian dibacanya sebagai berikut,

Santi/Nayla,

Aku mau jenguk Gilang yang sakit. Malam ini aku pulang agak telat soalnya aku mau nemenin dia di RS.

Salam Cute,

Beti

Santi menghembuskan nafas panjang. Tak ada orang di rumah berarti sepi, sepi berarti seram, itu yang ada dipikirannya. Ia memang sedikit pobhia pada makhluk halus. Terlebih lagi saat didengarnya bunyi gemericik air di kamar mandi. Dengan segala keberanian yang ada, ia mulai melangkahkan kaki ke depan pintu kamar mandi. Di tempatnya berdiri, bulu kuduknya turut berdiri saat ia dengar suara orang bersenandung. Ia tempelkan telinga ke daun pintu. Hingga senandung itu semakin jelas terdengar.

“Menunggu,

Ternyata menyakitkan….

Harus berapa lama,

Aku menunggumu…

Bila kuharus menunggumu,

Datangnya cintamu kan kupastikan itu jadi nyata….”

Santi mulai mengenali suara tersebut, rasa takutnya tlah memudar, tergantikan oleh kerutan dikening. Karena lagu-lagu cinta yang kemarin masih sempat dinikmati, kini tergantikan oleh melodi penantian yang sendu benar. Santi tidak mampu mengeluarkan suara memanggil gadis dalam kamar mandi itu, maka ditunggunya hingga si gadis keluar dari kamar mandi itu, maka ditunggunya hingga si gadis keluar dari kamar mandi. Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka pelan.

“Nayla, kamu kenapa?” yang ditanya tidak segera menjawab. Ia terduduk lemas di kursi.

“San, kok perasaan aku nggak pernah sukses kalau soal cowok.” Katanya kemudian.

“Kamu ni ngomong apa sih? Apa maksud kamu nggak pernah sukses?”

“Iya. Dulu Famby selingkuh, Tio mau nggak mau putus karena mesti keluar kota, Iyan kamu tahu sendiri dia gimana, sakau, trus Andika baru juga dua bulan dan bubar. Apes banget sih. Dan sekarang, Fabian nggak bisa jadi pacar aku, San.”

“Nggak bisa gimana? Bukan dulu dia nggak boleh pacaran sama bokapnya. Dia bilang bokapnya galak banget, beliau nggak mau ngecewain bokapnya. Dia minta aku nunggu sampai dia dapat restu dari bokapnya. Ta udah, tinggalah disini kusendiri…”.

“Tapi kan sekarang jamannya dah beda. Banyak kok yang nekat, lagipula Cuma buat have fun aja. Dan kalau dia memang beneran suka sama kamu, backstreet juga bisa kan?!”

“Siapa bilang, aku serius nggak main-main. Enak aja Cuma buat have fan. Sebenernya sih bisa, tapi kalau backstreet, nggak asyik. Mau ketemuan aja mesti sembunyi-sembunyi.”

Maka dimulailah kembali kisah yang baru. Si gadis tidak lagi seriang dulu, sejak dia kenal dengan kata ‘menunggu’. Dia baru sadar kalau menunggu itu nggak enak. Apalagi menunggu sesuatu yang tak pasti…

Sabtu pagi yang cerah. Tapi berbeda dengan hati gadis yang suka menyanyi di kamar mandi. Sejak apa yang menimpanya beberapa hari lalu, yaitu sebuah kenyataan yang ingin dia tolak, ia menjadi lebih sering melamun. Membuat kedua sahabatnya makin bingung. Bahkan melibatkan Gilang, hingga cowok itu harus ikut berpusing-pusing mencari pemecahan masalah Nayla. Tapi tidak banyak yang dapat mereka lakukan. Fabian, bukan orang yang cukup mereka kenal. Sedangkan Nayla yang terlalu pemikir, semakin terpuruk hilang kesabaran. Ia serius menyayangi pria itu, ia ingin pria itu menemaninya, menghiburkan, menyayanginya, dan selalu berada disampingnya. Kemarin dulu mungkin Nayla masih bisa membayangkan indahnya, dengan senyum terkembang dibibir, tapi kini ia hanya bisa berharap, bahkan bermimpi.

Sabtu ini, ia tidak sanggup turun dari tempat tidur. Pertama karena pening di kepalanya tak kunjung membaik, kedua karena ia takut dan malu akan kelopak matanya yang bengkak karena menangis semalaman, dan juga karena ia malas. Ia lebih ingin menangis di kamarnya, daripada menikmati soal-soal dari Mr. Sad. Hari ini dua jam pelajaran segera saja menghilang, tergantikan oleh bayangan yang lebih mengerikan. Seorang pria berambut cepak dan bermata teduh. Membuatnya harus kembali meneteskan air mata. Biasanya Nayla cs punya jadwal yang cukup padat di hari Sabtu. Tapi untuk hari ini tidak ada yang dilakukannya selaun mengurung diri dikamar. Kedua sahabatnya, Santi juga Beti membiarkan tetap begitu untuk sementara waktu. Tapi mereka dapat pastikan, untuk hari berikutnya tidak akan ada lagi wajah sedih diwajah Nayla. Karena mereka sendiri yang akan menghiburnya, dan mengembalikan senyumnya yang hilang.

Usaha kedua temannya cukup lumayan. Ia pun tidak ingin berlarut-larut, kalau memang ia cinta sampai kapanpun akan ditunggunya. Karena ia yakin Febian hanya untuknya dan bukan untuk yang lain. Tapi semakin hari penantiannya semakin terasa. Apalagi ia jarang bertemu dengan orang terkasihnya itu. Seakan Fabian memang benar-benar menghindarinya sekarang. Tapi kenapa harus menghindar? Dan kenapa tidak ada lagi perhatiannya yang dulu, tidak ada SMS? Dan kenapa sama sekali tidak pernah Fabian menghubunginya? Pertanyaan itu segera terjawab. Beberapa hari lalu di kantin sekolah, Dina salah satu anggota gank Riri mendekati Nayla yang tengah duduk sendiri. Entah darimana ia tahu tentang hubungan Nayla dan Fabian.

Hingga Dina menceritakan hal yang membangkitkan nyeri dihati Nayla.

“Aku denger-denger sih, Fabian lagi ada hubungan special sama seorang cewek namanya Sera…”

Bayangan tentang Fabian kembali memenuhi pikiran Nayla. Kali ini bukan Fabian yang dia kenal yang muncul, melainkan seorang yang terlihat tengah menyayat hatunya dengan belati. Jadi Fabian membawa-bawa nama ayahnya hanya demi untuk menolak cinta Nayla. Lalu tanggapanya pada pengakuan Nayla dulu, apa artinya? Lebih menyakitkan lagi saat Nayla tahu bahwa Sera masih duduk di bangku SMP. Hatinya remuk.

“Kenapa Fabian tega nglakuin ini semua sama aku? Harusnya dia bilang aja terus terang kalau dia udah punya cewek lain. Dia nggak perlu bikin aku sakit kayak gini.” Keluhnya pada kedua sahabatnya di kamar. Sedang kedua sahabatnya itu hanya bisa terdiam membisu, entah harus bagaimana. Maka mereka biarkan si gadis dengan cerita dan keluh kasihnya. Biar ia lepaskan semua beban yang mengganjal. Hingga air mata berhenti menetes dengan sendirinya.

“Padahal aku dah berharap banyak sama dia . Aku seneng banget waktu dia bilang ‘mulai detik ini kamu jadi belahan hatiku…’ dan aku mulai berkhayal tentang dia. Tapi apa? Apa artinya ini semua?” butiran bening kembali menetes membasahi pipinya. “San, Bet, boleh nggak aku nyanyi?” kedua sahabatnya mengangguk.

“Aku kecewa, aku terluka,

Dengan cerita antara engkau dan dia…

Mungkin diriki, tak pernah bisa,

Dan tak pernah bisa untuk dapatkan dirimu…”

Air mata gadis itu masih belum kering. Mengalir-alir, menganak sungai. Bila ia duduk bersandar akan mengalir kebawah, namun bila ia tidur menghadap jendela maka terbut aliran baru ke samping, Melunturkan keceriaanya dulu. Kini matilah Nayla yang dulu, dan lahirlah Nayla yang lemah, yang selalu menangu\is saat menghadapi masalah. Kedua sahabatnya semakin bingung. Tidak tahu harus berbuat apa. Menghibur percuma, membicarakan dan mencari penyelesaianpun tidak mungkin keadaan Nayla yang makin kacau. Akhirnya semuanya tetap mengalir seperti apa-adanya.

Inilah awal si gadis yang tengah patah hati karena sang pujaan jatuh ke gadis lain.

*****

Nayla tersentak. Ponsel dalam sakunya bergetar secara teratur, saat ia tengah melamun di serambi rumah mungil. Ia hapus air matanya. Sebuah SMS dari Fabian. Menanyakan tentang tugas sekolah. Nayla tersenyum sinis, sedang air matanya mengalir lagi. Tanpa pikir panjang ia langsung menanyakan siapa dan apa hubungannya dengan gadis yang bernama Sera. Tak berapa lama kemudian, ia rasakan sejuk dihati, senyumnya mulai terkembang. Saat pria itu menuliskan, ia rasakan sejuk dihati, senyumnya mulai terkembang. Saat pria itu menuliskan, bahwa ia sama sekali tidak ada hubungan apa-apa dengan Sera, selain hanya sekedar teman saja. Nayla tak hanya menyayangi Fabian, tapi ia juga memberi kepercayaan penuh padanya. Hingga air matanya mulai kering, tergantikan oleh senyum yang semakin manis setelah lama tak ia pamerkan.

Kini kembalilah Nayla yang dulu. Kedua teman gadisnya mulai dapat bernafas lega. Mereka akan kembali menyantap es krim coklat vanila di kantin, mencorat coret bangku bis saat jalan-jalan, menceritakan kisah-kisah lucu saat pelajaran, makan permen karet dibelakang Mr. Sad, menyembunyikan seragam anak-anak yang tengah abermain basket, membuat suara gaduh di perpustakaan, menjahili Mr. Punk (sebutan buat Pak Pangaribuan) penjaga laboratorium, dan masih banyak lagi hal konyol yang akan kembali menjadi rutinitas mereka. Sedang penantian Nayla pada pujaannya, masih dipertahankan. Kini ia akan lebih percaya pada Fabian, daripada gosip-gosip murahan yang sempat ‘membunuhnya’. Meskipun seorang Fabian memang bukan orang yang jauh dari gosip. Hampir seantero sekolah mengenalinya. Selain sekolah ia juga memiliki kesibukan lain, yaitu sebagai fotografer. Hal itu juga yang membuat Nayla berpikir, bahwa Fabian jarang menghubunginya karena sibuk. Dan Nayla yang mengharapkannya harus menerima keadaannya. Meskipun gosip-gosip yang beberapa kali ini muncul terlalu menyakitkan, tapi ia tetap tegar. Ia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama karena tidak mempercayai orang terkasihnya. Maka dari itu meskipun sakit ia tetap bertahan. Ia menganggap tidak pernah terjadi apa-apa antara dirinya dan pria itu. Karena baginya yang terpenting adalah membuat pria itu nyaman dan tidak merasa terganggu sedikitpun. Ia takut bila suatu saat nanti semua orang tahu tentang apa yang terjadi padanya dan pria itu, maka akan membuat Fabian terusik. Tugasnya sebagai seorang pencinta adalah membuat orang yang dicintainya merasa nyaman dan terjaga.

Tapi pria itu tidak menyadari bahwa yang ia lakukan telah membuat seorang gadis merasa sakit hati. Hingga ia ulangi kesalahannya, membuka balutan luka di hati si gadis.

“Nay, aku nggak tahu mesti bilang sama kamu atau nggak, tapi kayaknya kamu perlu tahu dech.” Beti menarik lengan Nayla yang tengah sibuk dengan makalahnya di serambi rumah mungil, menuju sekolah. Tak berapa lama kemudian, di gerbang sekolah terlihat seorang pria dengan tustel tergantung didadanya, tengah bersendau gurau dengan seorang gadis berseragam SMP. Nayla mengerutkan kening. Wajahnya memerah dan tidak ada sepatah katapun dapat terucap. Air mata mewakili segala kekecewaannya.

Gadis yang berseragam SMP itu memang cantik, pantas saja bila Fabian menyukainya. Mereka berdua terlihat begitu dekat. Bahkan gurauan yang terkesan mesra, membuat Nayla berbalik melangkah gontai kembali ke rumah mungil. Dibelakangnya langkah Beti semakin berat. Timbul rasa bersalah karena menunjukkan hal yang membuat sahabatnya itu semakin sakit. Bukan hanya sakit dihatinya, tapi juga sakit yang semakin selama ini telah terlupakan mulai kembali menjangkit, tepat di ulu hatinya. Nyeri semakin nyeri, perih semakin perih, dan sesak bertambah sesak. Bahkan semakin sesak dan sesak lagi, hingga tubuhnya lemas ambruk tak berdaya. Tak ada yang diingatnya setelah kejadian itu. Saat ia sadar, ia tengah berada dikamar serba putih. Mulai tercium aroma yang ia benci.

“Ih, bau obat. Aku lagi dimana?”

“Kamu di rumah sakit, Nay. Tadi kamu pingsan trus kita bawa kamu ke rumah sakit.”

“Nay, maaf ya aku dah bikin kamu sakit gini.” Rupanya rasa bersalah Beti semakin menjadi. Kedua sahabatnya tersenyum. Santi yang lebih mengenal Nayla, tahu tentang penyakit yang menjangkit sahabatnya itu. Tapi sengaja mereka lupakan karena Nayla tidak pernah lagi mengeluh sakit, maka dari itu sampai sekarang Beti baru tahu dari penjelasan dokter bahwa Nayla mengidap penyakit liver.

“Aku sakit sejak belum ketemu kamu, Bet. Aku malah berterima kasih karena kamu dah kasih tahu aku gimana sebenarnya Fabian.”

Sejak saat itu Nayla terbaring lemah di rumah sakit, hampir seminggu ia tinggalkan sekolah, hampir seminggu ia menangisi pria terkasihnya. Dalam hati ia masih ragu akan pria itu. Ia ragu Fabian bisa setega itu menyakitinya. Karena sebelumnya ia telah yakin, Fabian adalah pria yang baik, bahkan terlampau baik. Tapi gadis itu, benarkah gadis itu adalah alasan Fabian untuk menghindari Nayla?

Kini Nayla tidak lagi setegar yang dulu. Keceriaan yang baru saja kembali kini pudar, hilang terbawa oleh air mata yang masih mengalir. Kedua teman gadisnya heran, seorang Nayla yang periang, penuh apercaya diri, dan juga tegar, ternyata dapat jatuh terlalu dalam seperti ini. Selemah itukah ia?

“Kau tuliskan cerita

Tentang engkau dan dia

Membuat hatiku semakin terluka …”

Bersenandung dan melantunkan melodi-melodi seperti itulah hal yang ia lakukan saat sendiri. Melodi dari suara bindengnya, melodi yang menggambarkan isi hatinya.

“Tiap kali aku berlutut…”

Dering ponsel menghentikan senandungnya. Perlahan ia hapus air mata, dan ucapkan salam pada yang diseberang.

“Nay, gimana keadaan kamu?”

“Aku baik. Ini siapa?”

“Jadi kamu dah nglupain aku? Kamu dah nggak kenal lagi ma aku, Nay?” suara itu, rasanya pernah Nayla dengar. “Ini aku, Fabian…“ barulah Nayla ingat beberapa nomor yang ia hapus dari phone booknya. Air matanya kembali mengalir, buru-buru ia usap dengan telapak tangannya yang pucat. Tak pernah ia menyangka pria itu akan menghubunginya lagi setelah sekian lama.

“Santi dah ceritain semuanya sama aku. Kenapa kamu nggak percaya sama aku, Nay?”

“Aku percaya.”

“Kalau kamu percaya kamu nggak akan mikir macam-macam waktu lihat aku bgobrol sama Sera. Meskipun kita Cuma berdua. Kamu pasti ingat kalau aku pernah bilang aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia. Dia cuma teman kenalanku aja, nggak lebih…” lidah Nayla kelu dan tenggorokannya semakin pekat. Rasa bersalah mulai muncul, karena melupakan kepercayaan yang pernah ia berikan untuk pria itu,

“Nay, kalau kamu masih nggak percaya kamu tanya aja sama Egha. Rumahnya deket sama rumah Egha.”

“Nggak perlu, Fa. Kalau kamu dah ngomong gitu aku percaya. Lagian aku juga nggak kenal sama Egha. Makasih kamu dah jelasin semuanya. Aku percaya sepenuhnya sama kamu…”

Dan senyum gadis itu mulai kembali terkembang. Dua sahabatnya kini bisa bernafas lega. Setelah sebelumnya mereka ragu, apakah harus cerita atau tidaj pada Fabian tentang kondisi Nayla.

“Untung cerita.” bisik Santi pada Beti dan Gilang di depan pintu kamar Nayla.

Inilah kisah kesekian yang terjadi di rumah mungil. Air mata yang kemudian menjadi hembusan nafas lega.

*****

“Meski kau terus sakiti aku,

Cinta ini akan selalu memaafkan,

Dan aku percaya nanti engkau,

Mengerti bila cintaku takkan mati…”

Sebuah melodi penantian yang selalu terlantun merdu di kamar Nayla. Baru saja dibelinya saat jalan-jalan dengan kedua sahabatnya untuk melepas penat. Nayla tersenyum, ditemani butir-butir air matanya yang kembali mengalir. Baru sekarang ia sadar, meski seberapapun Fabian menyakitinya tidak akan benci mengganti cinta. Meskipun penantiannya tidak menemui kata pasti, namun kepercayaan selalu tertanam dihati. Mungkin kedengarannya memang sedikit konyol, tapi kalau cinta mau bilang apa?

Toh bukan Nayla minta rasa itu datang dan kemudian menyiksa batinnya. Nayla tidak pernah dan tidak ingin berfikir demikian, ia lebih suka menganggap inilah jalannya. Mungkin memang sudah jatahnya untuk mendapat pengalaman macam sekarang. Sempat terlintas dalam ingatannya, sebuah pesan bijak ‘kenangan bukan tuk dikenang melainkan tuk pengalaman’. Maka biarlah kisahnya dengan Fabian kali ini dijadikan sebagai pengalaman paling mengesankan. Rasa sakit yang dirasakan selama ini, tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang dirasa korban-korbannya dulu. Beberapa anak Adam yang pernah disakitinya. Dan sekarang mau tidak mau Nayla harus percaya akan adanya karma.

“Nay.”

“Iya, ada apa, San?” Nayla buru-buru mengusap air matanya.

“Kamu nangis lagi ya? Tadi kan kamu dah janji kalau kamu nggak akan nangis lagi. Kamu gimana sich.”

“Tadi aku bilang insya Allah. Udah aku nggak apa-apa kok.” Santi tidak berani tanya-tanya apa-apa lagi. Baru kemudian ia ingat tujuannya menemui Nayla.

“Oya, Nay. Tadi kan kita sempat beli kaset. Aku punya lagu yang bagus banget buat kamu. Dan kayaknya juga pas sama apa yang kami alami sekarang. Dengerin ya.”

“Makasih, ntar aku coba. Hari ini kalian jadi ke rumah Nugi? Maaf ya, kayaknya aku…”

“Iya-iya aku tahu. Nggak apa-apa, kamu istirahat aja di rumah. Aku pergi dulu ya.”

Dan benar, Nayla sendiri di rumah mungil. Diulang-ulang lagu itu. Beberapa kali diikuti air mata yang masih terus mengalir. Mungkin memang terlalu berlebihan. Rasa sakitnya, harusnya tidak sampai segitunya. Tapi itulah Nayla. Sekali ia jatuh akan sulit sekali untuk bisa kembali bangkit. Namun bila faktor yang menimbulkan sakitnya itu mendukung, akan berbeda lagi ceritanya.

“Sampai kapan kau gantung

Cerita cintaku

Memberi harapan…”

Sakitnya Nayla, mungkin karena memang ia belum dan tidak bisa menjadi dewasa. Semuanya dilakukan selalu dengan perasaan dan tidak dipikirkan matang. Dan inilah pertama kalinya ia merasakan yang orang bilang cinta bertepuk sebelah tangan. Karena meskipun Fabian tidak pernah mau berkata jujur, Nayla yakin bahwa Fabian tidak pernah menyukainya. Alasan saja tentang larangan ayahnya itu. Satu hal yang sampai saat ini masih menjadi beban pikiran Nayla. Apa mungkin nanti Fabian masih mau bersahabat dengannya? Ataukah Fabian akan meninggalkannya begitu saja?

Rasa sesal dalam dasar hatinya menjalar mengikuti aliran darah, menjalar seluruh tubuh, hingga membuatnya lemas seperti sekarang. Penyesalan akan kenekatan dan kecerobohannya dulu. Belum genap dua bulan ia kenal dengan seorang Fabian, dekap pun mungkin baru sebulan, tapi ia sudah berani menyatakan perasaan. Harusnya ia tunggu untuk melakukan pendekatan. Paling tidak hingga keduanya saling kenal dekat, akrab, mengerti sifat masing-masing. Dengan begitu akan lebih mudah baginya, bila pada akhirnya nanti ia tetap tidak bisa membuat Fabian menyukainya. Kadang terlintas dipikirannya pertanyaan mengapa ia begitu ceroboh.

Tapi semuanya telah terjadi. Walau tidak lagi dapat diulang. Sudah seharusnya yang lalu biar berlalu, dan mulailah menyambut hari baru. Langkahnya kaki kedepan tanpa menoleh kebelakang. Bila dipikirkan akan semakin menyakitkan, namun sulit sekali bila harus melupakan. Andai segera hadir malaikat yang mampu endapkan laranya.

“Lelah semua tuk berganti

Endapkan laraku disini

Coba ‘tuk lupakan

Bayangan dirimu yang selalu saja

Memaksa ‘tuk merindumu…”

Meski sulit dan sekali lagi rasanya nyeri begitu sakit, tetap Fabian harus ia lupakan. Dikemudian hari, bila Fabian bersedia melanjutkan hubungan sebagai teman maka akan terbuka hatinya lebar-lebar. Namun bila seandainya Fabian mengabaikannya, tidak akan lagi ia ajukan protes atau keluhan macam-macam. Semuanya dianggap wajar. Itupun kalau bisa.

Kembalilah air mata mengalir sia-sia. Seperti yang diharapkan, semoga menjadi tetesan yang terakhir.

*****

“Biarkanlah saja aku

Lupakan dirimu bunuh cintaku

Ok kekasihku

Salah bila aku harus bertahan

Usai sudah semua cerita antara kita

Kau bukan untukku…”

Beberapa kali harus merasakan yang namanya kehilangan, putus cinta. Ternyata sakit juga. Kini Nayla tahu, akan apa yang dirasakan mantannya dulu. Bukan salahnya bila terjadi serentetan kisah yang kurang mengesankan. Dulu sekali, ia sudah merasakan bagaimana sakitnya kehilangan orang yang dicinta. Cinta pertamanya, yang tidak lagi dapat menemaninya lebih lama. Pria itu pergi begitu saja tanpa pamit, tapi sepeninggalnya meninggalkan bekas. Andaikan bisa dan Tuhan mengijinkan, mungkin dapat terlihat goresan atau luka menganga dihati kecil Nayla. Tapi memang luka seperti itu bukan sesuatu yang pantas untuk dipertontonkan.

Karena luka itu, yang begitu terasa untuk seorang Nayla. Luka itu yang membuatnya buta akan cinta. Mungkin bisa disebut trauma. Nayla tidak ingin hal itu terulang kembali. Dan sejak itu ia tidak pernah serius berhubungan dengan laki-laki. Karena ia takut, bila ia benar-benar menempatkan seseorang dalam tahta yang teragung, andai suatu saat orang itu pergi, maka kembali Nayla harus menahan sakit hati. Baginya ini begitu mengerikan.

Dan Fabian, kehadirannya yang membukakan pintu hati Nayla untuk cinta. Tidak lagi rasa takut menghantui, setiap saat yang terbayang hanyalah kebahagiaan untuk dapat bersama. Kebahagiaan andai dapat mengukir senyum pada wajahnya yang tersayang. Tapi bayangan tentang kebahagian itu musnah sudah. Hanyut terbawa derasnya air mata. Karena mengingatnya, otomatis mengingatkan kembali pada luka sebelumnya. Mungkin memang benar bila Nayla menyebut dirinya seorang pengecut yang takut terluka karena cinta.

“Aku memang pengecut

Yang tak biasa biarkan

Diriku terluka

Aku terlalu takut

Bila cinta mengalahkanku…”

Dengan kejadian ini, Nayla semakin mengerti akan cinta. Cinta yang harus dihargai, diperjuangkan, dan dipertahankan. Juga untuk menghargai dan menerima keputusan orang lain. Dan yang terpenting, belajar bagaimana mempertahankan diri untuk tidak terus terpuruk dalam jurang kesedihan. Dunia tak sesempit daun kelor, hidup masih panjang. Masih ada banyak hal yang dapat dilakukan.

Nayla berlari ke kamar mandi. Melewati kedua sahabatnya yang tengah ngobrol di depan TV. Santi juga Beti bingung, cemas, dan takut bercampur jadi satu. Di dalam Nayla membasuh wajahnya, kemudian berkata sendiri pada dirinya.

“Nay, buat apa kamu mikirin orang yang nggak pernah mikirin kamu? Buang-buang waktu. Mending ikutin kata Beti, dibawa enjoy aja…”

Dan ia pun keluar dari kamar mandi. Wajahnya, meskipun masih terlihat merah dengan kelompak mata yang sedikit membengkak, namun terlihat lebih menarik dari sebelumnya karena terhias senyum diperuntukkan bagi kedua sahabatnya.

“nay, kamu nggak apa-apa kan?” Beti menuntunnya ke kamar.

“Beti, Santi. Aku nyerah.”

“Maksudnya?”

“Mati satu tumbuh seribu…”

Sesaat semuanya terdiam, tapi kemudian ketiganya melompat ke atas tempat tidur. Sembari tertawa lepas, Santi bertanya pada kedua sahabatnya.

“Berarti besok kita bisa ngerjain Mr. Punk lagi donk?”

“Besok ada jamnya Mr. Sad dua jam. Hari ini kita mesti ke supermarket buat beli permen karet.”

“Temen-temen, kita cabut sekarang, jangan lupa bawa spidol buat di bis nanti”

Akhirnya kesedihan di rumah mungil telah berakhir. Pada penghuninya kembali membuat gaduh seperti sediakala. Rumah mungil tersenyum lega. Tidak ada lagi butir-butir air mata kan menodainya.

Sore ini di taman kota, tiga orang gadis tengah berjalan beriringan, masing-masing membawa es krim coklat vanila yang nikmat. Namun tiba-tiba seorang menghentikan langkahnya.

“Eh, tunggu-tunggu. Coba kita berhenti dulu.”

“Aduh Santi, kenapa sich?”

“Itu ada cowok dari tadi ngeliatin kamu terus. Coba perhatiin deh.” Ketiganya menanggapi kata-kata Santi. Memang pria itu tengah memperhatikan seorang diantara ketiganya.

“Cakep juga tuh cowok. Gimana Nay?”

“Hah, gimana apanya?”

“Ya gimana menurut kamu? Dia cakep nggak?”

“Oh, kirain. Cakep sih, tapi apa dia punya lesung pipit kaya …. ups sorry keceplosan.”

Sesaat kemudian pria manis itu mendekati ketiga gadis ini. Dan perlahan diulurkan tangannya pada Nayla.

“Hai, boleh kenalan? Namaku Dewa…”

Nayla tak segera menjawab. Terpesona oleh lekukan sederhana yang begitu mempesona di pipi pria itu, membuatnya terlihat semakin manis. Memang dunia tak seluas daun kelor. Pria manis itu tidak jauh berada di bumi tempat Nayla berdiri.

**The End**

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar