Rabu, 14 Januari 2009

Analisis Kumpulan Cerpen Lintasan Cinta

Untaian Rasa di “Lintasan Cinta”

Mengurai Karakteristik dan Tradisi Jawa

pada Kumpulan Cerpen Arie Saptaji

Pada awal tulisan ini, saya mencoba melihat Arie Saptaji sebagai sosok yang njawani, tercermin dari deskripsi latar dan situasi yang sangat dekat dan lekat dengan kehidupan kita di atmosfer Jawa. Nama lengkapnya Arie Saptaji Wahyu Widodo, lahir di Ambarawa pada tanggal 5 Juli 1969 dan sempat pula mengenyam pendidikan di FBS IKIP Yogyakarta. Cerpen pertamanya dimuat di majalah anak-anak pada tahun 1983. Cerpennya, Maskumambang, menjadi pemenang penghargaan dalam Sayembara Mengarang Cerpen Femina 2006. Puisinya, Keluarga Kecilku, meraih hadiah penghargaan dalam Lomba Cipta Puisi HUT I Fordisastra.

Kumpulan Cerpen tentang Cinta, Keluarga, dan Persahabatan “Lintasan Cinta” terdiri atas (1) 4 cerpen Cinta : yaitu Baur dan Sunyi, Lingkaran yang Koyak, Lintasan Cinta, dan Pilihan Mereka, (2) 3 cerpen Keluarga : yaitu Bulu-bulu dan Cakar, Hari Paling Putih, dan Maskumambang, dan (3) 3 cerpen Persahabatan : yaitu Mengenang Yus, Warrior, dan Susu Persabatan.

Selain sebagai judul dari kumpulan cerpennya, Lintasan Cinta juga merupakan salah satu judul cerpen dalam kumpulan cerpen tersebut. Cerpen Lintasan Cinta mampu mewakili cerpen-cerpennya yang lain ditilik dari berbagai segi.

Atmosfer Jawa yang terungkap dalam kumpulan cerpen ini berupa penggunaan diksi bahasa Jawa dan adat tradisi orang Jawa pada umumnya. Penggunaan diksi bahasa Jawa banyak dijumpai pada setiap cerpennya.

Ardi, ah, aneh sungguh. Anak tak pedulian, punya pandangan mencengangkan. Tapi dahan-dahannya seperti semplah, tidak mencuat mereguk sinar matahari, tapi menunduk mengikuti goyang angin. Badai apa yang pernah menerpanya? Anak itu membutuhkan seorang penopang yang tabah. Ia, ah, apa yang bisa dilakukannya untuk membantu, selain mencoba berbagi rasa? ( Lingkaran yang Koyak )

Lalu, pembicaraan menjadi semakin gayeng dengan nimbrungnya Narti bersama mereka. Saling mengenal tambah lanjut antara Wito dengan Titi; percakapan tentang drama, yang sedikit menyenggol masa lalu; pementasan kemarin dulu; tentang sekolah; guyon; minum; mengunyah makanan kecil; ini-itu … . ( Lintasan Cinta )

O ya, Yos kita ini juga mahir gitaran, meski suka main asal-asalan, kruncang-kruncung seenak hasta. Sekarang, lihatlah, loncatan pancaroba yang nyaris seratus delapan puluh derajat itu: sering terlihat, bahkan kemudian mencapai pentas, Tina menyanyi diiringi kencrengan gitar Yos. Lagunya kadang teramat lembut buat seniman urakan macam dia. ( Pilihan Mereka )

Krucil bisa terbang sendiri, kalau mau dan sudah mahir lagi mengepakkan sayap. Toh bentuk sangkarnya begitu mempersilakannya terbang membumbung tinggi. Kuinginkan, itu terjadi kalau ia sudah lulut padaku. Jadi, ia mau melandas di telapak tanganku setelah penerbangannya. Itu keinginanku. ( Bulu-bulu dan Cakar )

Air mataku serasa pekat saat itu. Sikap Ibu pada hari-hari terakhirnya telah menyemaikan ketabahan kami: pasrah, sumarah. Aku tidak menangis hari itu. Aku merasakan dadaku begitu penuh dengan galau yang tak terkatakan. Aku terpesona pada senyum Ibu yang amat menawan. Oh, kuasa yang telah memanggil itu! ( Hari Paling Putih )

Ia mencoba memahami babak baru lakon kehidupannya, dan menjalaninya; sejak batara surya menghangatkan permukaan tanah, membusur tinggi ke pusar langit, sampai menggelincir ke balik Sindoro yang menyimpan sasmita. Inilah ruangnya, sekarang. Kerja perempuan desa: dapur, pasar, pancuran, ladang, dan akan segera begitu dekat dengan lelaki, mengandung dan anak … ah! Bukan kerja berat sebenarnya, namun seperti ada yang rontok-gugur melayang sebelum benar-benar garing. Ngilu. Sungguh canggung kemudaannya yang mentah disentakkan ke tengah kalangan wanita dewasa yang gemar petan, sambil ngrasani orang lain tanpa menyadari bahwa ‘permainan’ itu tak lebih baik ketimbang jamuran bocah di ara-ara. ( Maskumambang )

Ia miskin. Ia tidak malu mengakui itu. Memang nyata dirinya anak seorang bakul lupis dan thiwul. Tak sempatlah berganti sepatu setahun sekali. Miliknya ada dua pasang. Bibos itu, dan sepatu sandal pemberian buliknya, yang ia rawat begitu cermat serba hati-hati. Ia tak menyesal. Malah bersyukur, Mboknya punya tekad besar untuk menyekolahkannya. ( Warrior )

Pada awal bulan, dia sangat royal. Namun, pada akhir bulan, dia akan manut mengikuti aku nangkring di warung koboi, menyantap nasi kucing, menyeruput teh jahe. Meski sebenarnya bisa saja dia pergi ke wartel dan menelepon ke Jakarta untuk meminta uang saku tambahan, dia mengaku nikmat bersantap di warung angkringan seperti itu. “Enak kok merakyat begini,” kilahnya. ( Susu Persahabatan )

Atmosfer Jawa pun banyak dijumpai terungkap dalam kultur dan adat kebiasaan orang Jawa pada umumnya. Kultur Jawa ini begitu kental melekat pada cerita dan mampu meresap menjiwai isi cerpen secara utuh. Tradisi dan budaya Jawa tak jauh berbeda dengan adat ketimuran, tetapi esensi dari kultur Jawa ini memiliki karakteristik tersendiri yang bisa kita lihat dari cerpen-cerpen Arie Saptaji.

Sungguh sulit berada dalam posisi begini. Sungguh sulit, justru karena aku, pihak wanita, yang mencintai. Lingkunganku bagai menggariskan, belum pantas seorang wanita mendului menyatakan cinta. Dan aku tak sanggup untuk berontak terhadap tatakrama itu. ( Baur dan Sunyi )

Tresna amarga saka kulina,” kata ibu kosnya yang asli Yogya. Ya, cinta tumbuh karena saling terbiasa. “Maka, marilah Nak Rahman dan Ibu saling menyesuaikan diri. Agar Nak Rahman krasan tinggal di sini. Dan Ibu juga bisa memberikan pelayanan yang terbaik untuk Nak. Jadi, janganlah hubungan kita nanti sekadar yang butuh dengan yang membutuhkan. Tapi bisalah menjadi persaudaraan. Begitu juga hubungan Nak Rahman dengan anak-anak lain di sini.” ( Lingkaran yang Koyak )

Ya! Menerima kenyataan mengejutkan ini saja begitu perih, apalagi yang dipalingi adalah kekasihnya. Wito memang mencintainya, tapi apakah itu harus membuatnya berjingkrak-jingkrak di atas kesakitan orang lain? Tidak mungkin. Hatinya belum terbantut. Titi mengambil keputusan untuk mengubah sikapnya kepada Wito, dan meminta Wito mengubah sikap pula. ( Lintasan Cinta )

Tina tertunduk. Ia malu. Betapa indahnya ternyata penyutradaraan Tuhan terhadap kisah mereka. Betapa bermaknanya ternyata setiap langkah yang direncanakan-Nya. Kita tidak boleh terlalu menuruti perasaan. Kita harus berani memutuskan sendiri, meski mungkin terasa pahit. ( Pilihan Mereka )

Bila bedug Magrib telah dipukul, pintu rumah dikunci, dan Ning harus membuka-buka buku pelajaran. Ini juga sebuah bekti, pengabdian. Ning menyaksikan sendiri, betapa berkeringat Bapak dan Simbok bekerja; untuk menyuapi enam mulut, untuk membiayai sekolahnya. Kadang ia bertanya. Mengapa keringat yang berleleran saban hari, mengolah sawah-ladang yang memang Cuma beberapa petak, belum bisa untuk membuat mereka berkecukupan. Mengapa doa-doa itu belum juga memperoleh jawaban. Tapi, simbok menekankan kepadanya untuk belajar sumarah, belajar mengolah kepahitan jurang-trebis kehidupan menjadi penawar keletihan. ( Maskumambang )

Kumpulan cerpen Lintasan Cinta ini disuguhkan oleh Arie Saptaji secara utuh dalam setiap unsur ceritanya. Tokoh-tokohnya dengan segala karakter dan permasalahannya begitu lekat dengan realitas sosial masyarakat kalangan bawah terutama rakyat kecil. Alur cerita yang runtut dan mampu menghibur nuansa para pembaca mensyaratkan bahwa cerpen-cerpen Arie Saptaji terasa encer dan penuh dengan logika. Tema yang diungkap pun lekat dengan kehidupan sekitar kita yang tak rentan sarat tradisi yang harus dipahami oleh rentang generasi. Selain itu, kumpulan cerpen Lintasan Cinta menyuguhkan pula nuansa kehidupan hitam dan putih yang selalu bersanding berjajar di atmosfer kehidupan nyata masyarakat dewasa ini.

Tokoh dan latar tempat yang disajikan oleh Arie Saptaji begitu akrab di mata sidang pembaca penduduk Jawa, terutama Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya. Tokoh-tokoh seperti : Ayu, Wito, Warno, Narti, Krucil, Ning, Yati, Mardi, dan masih banyak tokoh lain yang bila dilihat dari namanya menunjukkan nama yang cukup populis di desa. Sepak terjang para tokoh itu pun tak luput hanya berkutat di seputar kehidupan orang desa : bermain jamuran di ara-ara, menyantap nasi kucing di warung angkringan, dolan ngobrol dengan dialog ngalor ngidul, memetik gitar kruncang-kruncung seenak hasta, wanita dewasa yang sering petan sambil ngrasani sana-sini, dan sebagainya. Semua itu mensyaratkan sebuah kultur budaya wong cilik yang jauh dari gemerlap dunia. Filosofi budaya wong cilik tidak kedanan donya, sehingga dalam kumpulan cerpen Arie Saptaji ini tidak menyuguhkan berbagai kemewahan hidup seperti mobil mewah, super market, kafe, internet, ataupun berbagai bentuk gaya hidup yang lain yang tentunya kelewat modern.

Siapa pun sidang pembaca yang memasuki wilayah kumpulan cerpen Lintasan Cinta ini tidak perlu sampai berpikir dua kali untuk bisa memahami alur cerita. Secara logis, cair, dan encer alur itu mengalun secara runtut dengan pentahapan alur yang demikian jelas. Tahapan-tahapan konvensional seperti perkenalan, permasalahan, perumitan, klimaks, dan penyelesaian tampak dalam batas-batas yang riil. Meskipun sesekali sidang pembaca mudah menebak klimaks dan ending cerita, cerpen-cerpen yang disuguhkan dalam Lintasan Cinta ini memiliki karakteristik tersendiri yang mampu menarik para pembaca untuk menyelesaikan secara tuntas.

Lintasan Cinta memunculkan tema-tema yang lekat dengan kehidupan sekitar masyarakat Jawa dengan segala peradabannya. Tema ini begitu membumi sehingga mudah dipahami bagi para rentang generasi. Prinsip dan budaya suka mengalah, menghormati kepentingan orang lain, tidak berdiri di atas penderitaan orang lain, sikap berbakti kepada orang tua, dan masih banyak tradisi budaya lainnya yang mampu mengejawantah kehidupan masyarakat desa sekarang ini. Masyarakat kita cenderung menjunjung tinggi adat ketimuran ketimbang mengagung-agungkan budaya Barat, tata krama dalam pergaulan masih tetap diperhatikan, unggah-ungguh dalam berujar masih dipegang erat, dan sikap berbakti kepada orang tua selalu diutamakan. Tema-tema yang dibidik dalam Lintasan Cinta ini sungguh membaur dengan realitas kehidupan masyarakat desa dewasa ini.

Sebagai sebuah cerita yang menarik dan bersahabat, cerpen-cerpen yang disajikan dalam Lintasan Cinta ini tak luput pula menyejajarkan dua sisi kehidupan hitam dan putih secara proporsional. Meskipun tokoh protagonis dan antagonis tidak secara nyata ditampilkan secara gamblang, akan tetapi para pembaca akan mampu membedakan dua sisi kehidupan itu dengan jeli. Tokoh Ana yang ceriwis sebagai wartawan gosip bersanding seirama dengan Ayu di Baur dan Sunyi. Tokoh Ardi yang berkali-kali ganti pacar, banyak menunggak mata kuliah, dan cuek itu bisa berjalan searus dengan Rahman di Lingkaran yang Koyak. Sifat hitam pada diri tokoh Amin dapat menyatu dengan sifat putih pada tokoh Yono di cerpen Maskumambang. Keserasian dan keselarasan kesinambungan sisi hitam dan putih dalam kehidupan seolah sudah menjadi kodrat dari Tuhan. Semua itu berbaur seperti apa yang telah digariskan.

Demikian untaian rasa yang dapat saya sajikan dari analisis kumpulan cerpen Lintasan Cinta karya Arie Saptaji. Segala kekurangan mohon dimaafkan dan teriring secuil harapan semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca yang budiman. Amien … .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar