Selasa, 20 Januari 2009

Cerpen : Malam Seribu Bulan

Malam Seribu Bulan

Matahari mulai meninggi, tapi Jumadi masih bergelung di tempat tidur.Ia sangat enggan untuk bangun karena Lebaran tinggal sepuluh hari lagi,dan denyut kemeriahan orang-orang untuk menyambutnya sudah begitu terasa.

DUA hari ia kelayapan mengunjungi mal-mal, pasar-pasar tradisional, orang-orang yang berbelanja begitu menyemut. Sedangkan aku? Bah! Aku belum punya apa-apa untuk menyenangkan anak istriku. Jumadi berdegut, menelan ludah.

Pahitnya ludah karena sedang berpuasa, sepahit jalan hidup yang kini tengah ia lakoni. Karena sudah hampir setahun ini ia jadi pengangguran.Dan karena itu pula ia merasa sangat sedih. Untuk menghilangkan rasa sedih itulah, Jumadi mencoba mengalihkannya dengan tidur sepanjang hari.

Tapi baru saja ia menarik sarung untuk menutupi tubuhnya agar tidurnya lebih nyaman, pintu kamar tidurnya dibuka dengan kasar, bersamaan dengan itu terdengar pula istrinya berseru: ”Mas, bangun dong, Mas! Jalan sana, cari kerja. Jangan molor melulu. Mumpung masih ada waktu.Jangan sampai Lebaran nanti kita tidak membuat ketupat sayur. Malu Mas, maluu… sama tetangga,” sang istri ngomel panjang lebar sambil menimang-nimang anaknya yang terkecil, yang baru berusia sepuluh bulan.

Sesaat emosi Jumadi meluap.Tapi ketika ia menatap wajah istrinya yang kurus dan pucat, rasa marah itu lumer, berganti dengan rasa iba. Bahkan ia merasa berdosa, karena tak dapat menafkahi istri dan ketiga anaknya secara layak. Ia pun merasa, tuntutan istrinya itu wajar adanya. Perlahan-lahan Jumadi bangkit dari tidur.

Perlahan-lahan pula ia menggerakgerakkan tubuh untuk menghilangkan rasa pegal karena terlalu banyak tidur.Kemudian, ia melangkah ke teras depan rumah. Ia duduk di kursi bambu yang sudah reyot. Tatapannya menerawang ke depan, membentur bangunan-bangunan gedung yang kukuh dan mencakar langit.Jumadi menghela napas berat.Hatinya serasa teriris.”Ya Allah, mengapa harus ada orang yang terlalu kaya, ketika masih teramat banyak orang yang terlalu miskin?”keluhnya.

Ia menyapukan pandangannya ke sekeliling: Rumah-rumah berdempetdempet, berdinding tripleks yang koyakmoyak. Beratap tambal sulam, antara genting dan potongan-potongan seng bekas. Dikelilingi got-got mandek.Kumuh. Sedangkan di depan sana, di pinggir jalan protokol, gedung-gedung perkantoran berdiri megah. Angkuh! Tak pernah sekali pun Jumadi berhasil memasuki salah satu gedung yang mewah itu.

Pernah sekali tempo Jumadi melamar kerja di salah satu perusahaan yang berkantor di sebuah gedung yang megah itu, karena ia mendengar dari salah satu tetangganya ada lowongan. Tapi baru memasuki lantai dasar, langkahnya sudah ditahan satpam. ”Keperluan Bapak?” tanya satpam, galak. ”Melamar kerja, Pak,” jawab Jumadi sesopan mungkin. ”Di sini tak ada lowongan,”suara satpam tetap galak.

”Tapi saya dengar ada lowongan, Pak,” Jumadi menyebut nama sebuah perusahaan. Sang satpam mengangguk-angguk. ”Boleh Pak, saya menemui pimpinan perusahaan itu?” suara Jumadi penuh permohonan. ”Oh maaf Pak, hal itu tidak diperbolehkan oleh peraturan di gedung ini,” kali ini suara satpam sedikit lunak. ”Silakan lamaran Bapak tinggal di sini, dan tunggu panggilan.” Tak ada pilihan lain bagi Jumadi.

Dengan terpaksa ia menuruti kehendak sang satpam.Tapi sampai kini, setelah tiga bulan berlalu panggilan kerja itu tak kunjung tiba! Ingat akan hal itu dada Jumadi serasa sesak.Kesal. Muak! Jumadi menghentakkan kakinya ke lantai yang terbuat dari semen. Kerja! Alangkah sulit didapat.

Padahal, ia pernah kuliah di Akademi Perindustrian. Pengalaman kerja ia punya, karena ia pernah bekerja di pabrik sepatu sebagai kepala bagian produksi.Tapi hal itu rupanya bukan jaminan untuk dengan mudah kembali mendapatkan kerja.Semua pabrik dan kantor yang ia datangi untuk melamar kerja selalu menolak dengan bahasa yang sama: ”Belum ada lowongan. Karena krisis belum berakhir…

” Krisis! Krisis! Kapan krisis akan berakhir di negeri ini?! Jumadi menghela napas panjang. Kini rasa sesal memenuhi rongga dadanya. Menyesali sikapnya dulu yang memimpin teman-temannya berunjuk rasa menuntut kenaikan gaji.Dan karena hal itu, ia dipecat dari tempatnya bekerja. ”Selamat siang,Pak Jumadi,” sebuah suara tiba-tiba mengejutkan lamunannya. Jumadi tergagap kaget.

”Oh, Pak Ayub,” Jumadi berusaha tersenyum.”Mau ke mana,Pak, kok kelihatan rapi?” ”Ah, nggak ke mana-mana. Mau ngontrol rumah-rumah ini saja.Takut ada yang bocor.Sudah hampir Lebaran,ya?” Jumadi tersenyum kecut.Ucapan Pak Ayub itu jelas mengingatkannya: Bahwa selesai Lebaran nanti habis sudah masa kontrak rumah yang ia tempati. Itu artinya: ia harus menyediakan uang Rp750.000 jika masih ingin menempati rumah petak itu. ***

Belum lama Pak Ayub berlalu, dengan berlari-lari muncul kedua anaknya,Agus dan Budi. Dengan napas masih terengahengah, keduanya menceritakan bahwa teman- teman mereka sudah pada dibelikan baju baru,celana baru,dan sepatu baru. ”Baju Angga bagus sekali, Pak. Ada gambar Spiderman-nya. Belinya di Pasar Minggu.Budi belikan baju seperti itu ya, Pak?” kata anaknya yang kedua sambil menarik-narik lengan bajunya. Jumadi terdiam.

Dadanya serasa tertohok. Ia tak tahu jawaban apa yang harus diberikan pada anaknya, sosok kecil yang belum mengerti nasib dan penderitaan hidupnya. ”Kapan Budi dibelikan baju untuk Lebaran,Pak?” tanya anak itu lagi. ”Beli sekarang saja, Pak,” timpal Agus,anaknya yang pertama. ”Iya,Pak. Lebaran kan tinggal sebentar lagi?” sambung Budi dengan suara sedikit merengek.

”Sabar ya, Nak. Sabaarr…,” Jumadi mengelus-elus kepala kedua anaknya. ”Besok Bapak belikan. Sekarang kalian main lagi, sana!” Kedua bocah itu mengangguk puas. Lalu kembali berlari,bergabung dengan teman-temannya bermain petak umpet. *** Seminggu menjelang Lebaran, Jumadi sengaja datang ke pabrik sepatu bekas tempatnya bekerja dulu.

Hampir sembilan tahun bekerja mengabdi di pabrik sepatu itu, ia tahu persis; tunjangan hari raya selalu dibagikan seminggu menjelang Lebaran.Jumadi membuang jauhjauh rasa malu dari hatinya.Ia akan mencoba pinjam uang pada bekas rekan-rekan kerjanya, terutama pada Karjo yang dulu merupakan sahabat kentalnya. Tapi Jumadi hanya bisa gigit jari. Uang pinjaman itu tak ia dapatkan.

Menurut bekas rekan-rekan kerjanya, THR tahun ini hanya dibayar separuh dari yang biasa mereka terima, dengan alasan perusahaan merugi, akibat krisis yang masih membelenggu negeri ini. Jumadi terpekur. Wajahnya menyiratkan rasa putus asa yang dalam. Sebagai sahabat lama,Karjo merasa iba. Tapi ia hanya bisa memberi saran.

”Dulu kau pernah bilang, punya saudara sepupu yang cukup berhasil di Bogor. Karena dia punya bengkel motor dan usaha kios di pasar. Mengapa tak kau coba minta tolong padanya, Jum?” kata Karjo hati-hati, mencoba menyelami perasaan Jumadi. Jumadi mengangkat wajah, menatap sahabat lamanya itu, lekat-lekat.

”Wah,benar saranmu itu,Jo,”senyum Jumadi. Ada pijar harapan di bola matanya. ”Ya akan kucobalah, walau sesungguhnya antara aku dan dia ada sedikit perselisihan.” Karjo menyelipkan selembar uang dua puluh ribuan di telapak tangan kanan Jumadi. Dan dengan uang itu Jumadi pergi ke Bogor. Tanpa banyak basa-basi, di hadapan Respati, saudara sepupunya itu, Jumadi mengutarakan keluh kesahnya.

Tapi Respati hanya tertawa mendengar penuturan Jumadi,tawa mengejek,yang membuat Jumadi semakin merasa tertohok. ”Jum, Jum, waktu sekolah dulu kau mengejekku. Sekolah STM adalah sekolah calon kuli. Dan kau katakan pula, menelan mentah-mentah wejanganwejangan para ulama di desa kita, sama dengan percaya ilmu klenik. Sekarang hasilnya?” Respati kembali tertawa. Jumadi diam, tak bereaksi.

”Makanya, jadi orang itu jangan terlalu sombong. Usaha, ikhtiar itu wajib. Tapi, minta bantuan orang pintar itu juga perlu. Kau tahu, keberhasilan yang aku dapat sekarang ini,adalah berkat dari hasil usaha, kerja keras serta bantuan orang-orang pintar,” Respati berkhotbah panjang lebar. Jumadi masih membisu.

”Aku hanya bisa mengingatkanmu,” kata Respati pula. ”Di antara malammalam ganjil menjelang Lebaran, ada satu malam yang disebut malam lailatul kadar.Malam yang penuh rahmat,malam seribu bulan.Sekarang masih ada kesempatan. Cobalah kau berdoa di alam terbuka, lebih baik lagi di tepi pantai. Siapa tahu akan kau dapatkan rahmat malam lailatul kadar itu…” ***

Malam 27 Ramadan. Langit Jakarta rata tertutup awan hitam.Angin bertiup kencang, mengiris alam, meningkah malam. Sedangkan kilat dan halilintar saling bersahutan, sebagai pertanda hujan yang deras akan segera mengguyur bumi. Tapi hal itu tak dihiraukan Jumadi. Mengenakan peci hitam dan tasbih tergenggam di tangan kanan, ia siap keluar rumah.Diam-diam Jumadi memang telah termakan oleh saran dari Respati.

”Mau pergi ke mana Mas, malam mendung begini?” tegur istrinya. ”Mau ke tepi pantai Ancol, berdoa, menunggu datangnya rahmat malam lailatul kadar,” kata Jumadi mantap. ”Jangan mengkhayal, Mas. Malam lailatul kadar hanya diturunkan Allah bagi orang yang menjalankan ibadah puasa dan amalan-amalan sunah dengan baik selama Ramadan. Puasa saja nggak bener. Berapa kali kau batal? Tarawih juga hanya tiga kali, kok ingin dapat rahmat malam lailatul kadar!”

”Sudah, jangan berkhotbah!” suara Jumadi meninggi. Sang istri diam. Ia telah hafal tabiat suaminya, yang tak bisa dibantah kalau sudah punya kemauan. Sampai di tepi pantai, hujan turun dengan lebatnya. Halilintar saling bersahutan. Tapi Jumadi tak gentar. Dengan khusyuk, ia baca wirid sebisanya dengan hitungan tasbih yang berputar di tangan kanannya.

Setelah dirasa cukup,Jumadi menadahkan kedua belah telapak tangannya, berdoa dengan bahasa yang paling ia pahami, memohon turunnya rahmat pada Yang Mahakuasa. Entah berapa lama ia melakukan hal itu.Tubuhnya telah bergetar, menggigil tanpa ia sadari. Sampai tiba-tiba ada sebuah Xenia berhenti di dekatnya. Dengan kaca pintu sedikit terbuka, pengendara Xenia itu berteriak-teriak menegur Jumadi.Tapi Jumadi tak mendengar.

Pada panggilan kesepuluh, baru Jumadi sadar, ada orang yang menyapanya. Ia pun segera menengok menatap pengendara Xenia itu. ”Bapak sedang apa?” tanya pengendara Xenia. ”Berdoa, menunggu lailatul kadar,” sahut Jumadi. ”Kenapa Bapak melakukannya di tepi pantai saat hujan lebat begini?” ”Karena saya yakin, di tepi pantailah lailatul kadar akan turun.Dan saya ingin sekali mendapatkannya. Lebaran tinggal tiga hari lagi, sedangkan saya belum punya persiapan apa pun untuk anakanak dan istri saya.”

Lelaki pengendara Xenia itu terdiam. Rasa iba melumuri hatinya. ”Kalau begitu mari ikut ke rumah saya, Pak,” katanya kemudian. ”Mungkin saya dapat memberi sesuatu yang Bapak perlukan untuk menyambut Lebaran nanti.” Tanpa berpikir dua kali, Jumadi menuruti ajakan pengendara Xenia itu. Dan dalam hati ia bersyukur, tapi juga bertanya-tanya: ”Inikah yang disebut malam lailatul kadar itu? Malam Seribu bulan itu? Inikah…??”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar