Selasa, 20 Januari 2009

Cerpen : Malam Seribu Bulan

Malam Seribu Bulan

Matahari mulai meninggi, tapi Jumadi masih bergelung di tempat tidur.Ia sangat enggan untuk bangun karena Lebaran tinggal sepuluh hari lagi,dan denyut kemeriahan orang-orang untuk menyambutnya sudah begitu terasa.

DUA hari ia kelayapan mengunjungi mal-mal, pasar-pasar tradisional, orang-orang yang berbelanja begitu menyemut. Sedangkan aku? Bah! Aku belum punya apa-apa untuk menyenangkan anak istriku. Jumadi berdegut, menelan ludah.

Pahitnya ludah karena sedang berpuasa, sepahit jalan hidup yang kini tengah ia lakoni. Karena sudah hampir setahun ini ia jadi pengangguran.Dan karena itu pula ia merasa sangat sedih. Untuk menghilangkan rasa sedih itulah, Jumadi mencoba mengalihkannya dengan tidur sepanjang hari.

Tapi baru saja ia menarik sarung untuk menutupi tubuhnya agar tidurnya lebih nyaman, pintu kamar tidurnya dibuka dengan kasar, bersamaan dengan itu terdengar pula istrinya berseru: ”Mas, bangun dong, Mas! Jalan sana, cari kerja. Jangan molor melulu. Mumpung masih ada waktu.Jangan sampai Lebaran nanti kita tidak membuat ketupat sayur. Malu Mas, maluu… sama tetangga,” sang istri ngomel panjang lebar sambil menimang-nimang anaknya yang terkecil, yang baru berusia sepuluh bulan.

Sesaat emosi Jumadi meluap.Tapi ketika ia menatap wajah istrinya yang kurus dan pucat, rasa marah itu lumer, berganti dengan rasa iba. Bahkan ia merasa berdosa, karena tak dapat menafkahi istri dan ketiga anaknya secara layak. Ia pun merasa, tuntutan istrinya itu wajar adanya. Perlahan-lahan Jumadi bangkit dari tidur.

Perlahan-lahan pula ia menggerakgerakkan tubuh untuk menghilangkan rasa pegal karena terlalu banyak tidur.Kemudian, ia melangkah ke teras depan rumah. Ia duduk di kursi bambu yang sudah reyot. Tatapannya menerawang ke depan, membentur bangunan-bangunan gedung yang kukuh dan mencakar langit.Jumadi menghela napas berat.Hatinya serasa teriris.”Ya Allah, mengapa harus ada orang yang terlalu kaya, ketika masih teramat banyak orang yang terlalu miskin?”keluhnya.

Ia menyapukan pandangannya ke sekeliling: Rumah-rumah berdempetdempet, berdinding tripleks yang koyakmoyak. Beratap tambal sulam, antara genting dan potongan-potongan seng bekas. Dikelilingi got-got mandek.Kumuh. Sedangkan di depan sana, di pinggir jalan protokol, gedung-gedung perkantoran berdiri megah. Angkuh! Tak pernah sekali pun Jumadi berhasil memasuki salah satu gedung yang mewah itu.

Pernah sekali tempo Jumadi melamar kerja di salah satu perusahaan yang berkantor di sebuah gedung yang megah itu, karena ia mendengar dari salah satu tetangganya ada lowongan. Tapi baru memasuki lantai dasar, langkahnya sudah ditahan satpam. ”Keperluan Bapak?” tanya satpam, galak. ”Melamar kerja, Pak,” jawab Jumadi sesopan mungkin. ”Di sini tak ada lowongan,”suara satpam tetap galak.

”Tapi saya dengar ada lowongan, Pak,” Jumadi menyebut nama sebuah perusahaan. Sang satpam mengangguk-angguk. ”Boleh Pak, saya menemui pimpinan perusahaan itu?” suara Jumadi penuh permohonan. ”Oh maaf Pak, hal itu tidak diperbolehkan oleh peraturan di gedung ini,” kali ini suara satpam sedikit lunak. ”Silakan lamaran Bapak tinggal di sini, dan tunggu panggilan.” Tak ada pilihan lain bagi Jumadi.

Dengan terpaksa ia menuruti kehendak sang satpam.Tapi sampai kini, setelah tiga bulan berlalu panggilan kerja itu tak kunjung tiba! Ingat akan hal itu dada Jumadi serasa sesak.Kesal. Muak! Jumadi menghentakkan kakinya ke lantai yang terbuat dari semen. Kerja! Alangkah sulit didapat.

Padahal, ia pernah kuliah di Akademi Perindustrian. Pengalaman kerja ia punya, karena ia pernah bekerja di pabrik sepatu sebagai kepala bagian produksi.Tapi hal itu rupanya bukan jaminan untuk dengan mudah kembali mendapatkan kerja.Semua pabrik dan kantor yang ia datangi untuk melamar kerja selalu menolak dengan bahasa yang sama: ”Belum ada lowongan. Karena krisis belum berakhir…

” Krisis! Krisis! Kapan krisis akan berakhir di negeri ini?! Jumadi menghela napas panjang. Kini rasa sesal memenuhi rongga dadanya. Menyesali sikapnya dulu yang memimpin teman-temannya berunjuk rasa menuntut kenaikan gaji.Dan karena hal itu, ia dipecat dari tempatnya bekerja. ”Selamat siang,Pak Jumadi,” sebuah suara tiba-tiba mengejutkan lamunannya. Jumadi tergagap kaget.

”Oh, Pak Ayub,” Jumadi berusaha tersenyum.”Mau ke mana,Pak, kok kelihatan rapi?” ”Ah, nggak ke mana-mana. Mau ngontrol rumah-rumah ini saja.Takut ada yang bocor.Sudah hampir Lebaran,ya?” Jumadi tersenyum kecut.Ucapan Pak Ayub itu jelas mengingatkannya: Bahwa selesai Lebaran nanti habis sudah masa kontrak rumah yang ia tempati. Itu artinya: ia harus menyediakan uang Rp750.000 jika masih ingin menempati rumah petak itu. ***

Belum lama Pak Ayub berlalu, dengan berlari-lari muncul kedua anaknya,Agus dan Budi. Dengan napas masih terengahengah, keduanya menceritakan bahwa teman- teman mereka sudah pada dibelikan baju baru,celana baru,dan sepatu baru. ”Baju Angga bagus sekali, Pak. Ada gambar Spiderman-nya. Belinya di Pasar Minggu.Budi belikan baju seperti itu ya, Pak?” kata anaknya yang kedua sambil menarik-narik lengan bajunya. Jumadi terdiam.

Dadanya serasa tertohok. Ia tak tahu jawaban apa yang harus diberikan pada anaknya, sosok kecil yang belum mengerti nasib dan penderitaan hidupnya. ”Kapan Budi dibelikan baju untuk Lebaran,Pak?” tanya anak itu lagi. ”Beli sekarang saja, Pak,” timpal Agus,anaknya yang pertama. ”Iya,Pak. Lebaran kan tinggal sebentar lagi?” sambung Budi dengan suara sedikit merengek.

”Sabar ya, Nak. Sabaarr…,” Jumadi mengelus-elus kepala kedua anaknya. ”Besok Bapak belikan. Sekarang kalian main lagi, sana!” Kedua bocah itu mengangguk puas. Lalu kembali berlari,bergabung dengan teman-temannya bermain petak umpet. *** Seminggu menjelang Lebaran, Jumadi sengaja datang ke pabrik sepatu bekas tempatnya bekerja dulu.

Hampir sembilan tahun bekerja mengabdi di pabrik sepatu itu, ia tahu persis; tunjangan hari raya selalu dibagikan seminggu menjelang Lebaran.Jumadi membuang jauhjauh rasa malu dari hatinya.Ia akan mencoba pinjam uang pada bekas rekan-rekan kerjanya, terutama pada Karjo yang dulu merupakan sahabat kentalnya. Tapi Jumadi hanya bisa gigit jari. Uang pinjaman itu tak ia dapatkan.

Menurut bekas rekan-rekan kerjanya, THR tahun ini hanya dibayar separuh dari yang biasa mereka terima, dengan alasan perusahaan merugi, akibat krisis yang masih membelenggu negeri ini. Jumadi terpekur. Wajahnya menyiratkan rasa putus asa yang dalam. Sebagai sahabat lama,Karjo merasa iba. Tapi ia hanya bisa memberi saran.

”Dulu kau pernah bilang, punya saudara sepupu yang cukup berhasil di Bogor. Karena dia punya bengkel motor dan usaha kios di pasar. Mengapa tak kau coba minta tolong padanya, Jum?” kata Karjo hati-hati, mencoba menyelami perasaan Jumadi. Jumadi mengangkat wajah, menatap sahabat lamanya itu, lekat-lekat.

”Wah,benar saranmu itu,Jo,”senyum Jumadi. Ada pijar harapan di bola matanya. ”Ya akan kucobalah, walau sesungguhnya antara aku dan dia ada sedikit perselisihan.” Karjo menyelipkan selembar uang dua puluh ribuan di telapak tangan kanan Jumadi. Dan dengan uang itu Jumadi pergi ke Bogor. Tanpa banyak basa-basi, di hadapan Respati, saudara sepupunya itu, Jumadi mengutarakan keluh kesahnya.

Tapi Respati hanya tertawa mendengar penuturan Jumadi,tawa mengejek,yang membuat Jumadi semakin merasa tertohok. ”Jum, Jum, waktu sekolah dulu kau mengejekku. Sekolah STM adalah sekolah calon kuli. Dan kau katakan pula, menelan mentah-mentah wejanganwejangan para ulama di desa kita, sama dengan percaya ilmu klenik. Sekarang hasilnya?” Respati kembali tertawa. Jumadi diam, tak bereaksi.

”Makanya, jadi orang itu jangan terlalu sombong. Usaha, ikhtiar itu wajib. Tapi, minta bantuan orang pintar itu juga perlu. Kau tahu, keberhasilan yang aku dapat sekarang ini,adalah berkat dari hasil usaha, kerja keras serta bantuan orang-orang pintar,” Respati berkhotbah panjang lebar. Jumadi masih membisu.

”Aku hanya bisa mengingatkanmu,” kata Respati pula. ”Di antara malammalam ganjil menjelang Lebaran, ada satu malam yang disebut malam lailatul kadar.Malam yang penuh rahmat,malam seribu bulan.Sekarang masih ada kesempatan. Cobalah kau berdoa di alam terbuka, lebih baik lagi di tepi pantai. Siapa tahu akan kau dapatkan rahmat malam lailatul kadar itu…” ***

Malam 27 Ramadan. Langit Jakarta rata tertutup awan hitam.Angin bertiup kencang, mengiris alam, meningkah malam. Sedangkan kilat dan halilintar saling bersahutan, sebagai pertanda hujan yang deras akan segera mengguyur bumi. Tapi hal itu tak dihiraukan Jumadi. Mengenakan peci hitam dan tasbih tergenggam di tangan kanan, ia siap keluar rumah.Diam-diam Jumadi memang telah termakan oleh saran dari Respati.

”Mau pergi ke mana Mas, malam mendung begini?” tegur istrinya. ”Mau ke tepi pantai Ancol, berdoa, menunggu datangnya rahmat malam lailatul kadar,” kata Jumadi mantap. ”Jangan mengkhayal, Mas. Malam lailatul kadar hanya diturunkan Allah bagi orang yang menjalankan ibadah puasa dan amalan-amalan sunah dengan baik selama Ramadan. Puasa saja nggak bener. Berapa kali kau batal? Tarawih juga hanya tiga kali, kok ingin dapat rahmat malam lailatul kadar!”

”Sudah, jangan berkhotbah!” suara Jumadi meninggi. Sang istri diam. Ia telah hafal tabiat suaminya, yang tak bisa dibantah kalau sudah punya kemauan. Sampai di tepi pantai, hujan turun dengan lebatnya. Halilintar saling bersahutan. Tapi Jumadi tak gentar. Dengan khusyuk, ia baca wirid sebisanya dengan hitungan tasbih yang berputar di tangan kanannya.

Setelah dirasa cukup,Jumadi menadahkan kedua belah telapak tangannya, berdoa dengan bahasa yang paling ia pahami, memohon turunnya rahmat pada Yang Mahakuasa. Entah berapa lama ia melakukan hal itu.Tubuhnya telah bergetar, menggigil tanpa ia sadari. Sampai tiba-tiba ada sebuah Xenia berhenti di dekatnya. Dengan kaca pintu sedikit terbuka, pengendara Xenia itu berteriak-teriak menegur Jumadi.Tapi Jumadi tak mendengar.

Pada panggilan kesepuluh, baru Jumadi sadar, ada orang yang menyapanya. Ia pun segera menengok menatap pengendara Xenia itu. ”Bapak sedang apa?” tanya pengendara Xenia. ”Berdoa, menunggu lailatul kadar,” sahut Jumadi. ”Kenapa Bapak melakukannya di tepi pantai saat hujan lebat begini?” ”Karena saya yakin, di tepi pantailah lailatul kadar akan turun.Dan saya ingin sekali mendapatkannya. Lebaran tinggal tiga hari lagi, sedangkan saya belum punya persiapan apa pun untuk anakanak dan istri saya.”

Lelaki pengendara Xenia itu terdiam. Rasa iba melumuri hatinya. ”Kalau begitu mari ikut ke rumah saya, Pak,” katanya kemudian. ”Mungkin saya dapat memberi sesuatu yang Bapak perlukan untuk menyambut Lebaran nanti.” Tanpa berpikir dua kali, Jumadi menuruti ajakan pengendara Xenia itu. Dan dalam hati ia bersyukur, tapi juga bertanya-tanya: ”Inikah yang disebut malam lailatul kadar itu? Malam Seribu bulan itu? Inikah…??”

Biografi : JS Badudu

Jusuf Sjarif Badudu
Biografi

Jusuf Sjarif Badudu, lebih dikenal dengan nama J. S. Badudu, lahir di Gorontalo pada tanggal 19 Maret 1926. Dalam usia tiga belas tahun (1939) Badudu manamatkan Sekolah Rakyat di Ampana, Sulawesi Tenggara. Kemudian, ia mengikuti kursus Volksonderwijser/CVO di Luwuk, Sulawesi Tenggara (1941). Tahun 1949 ia menyelesaikan pendidikan Normaal School di Tertena, Sulawesi Tenggara. Ia melanjutkan sekolah di KweekschooI/SGA, Makassar, Sulawesi Selatan dan tamat pada tahun 1951. Tahun 1955 ia menyelesaikan pendidikan B.1 Bahasa Indonesia di Bandung dan menyelesaikan pendidikan S1-nya di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung (1963). Tahun 1971—1973 Badudu melanjutkan pendidikan pada Postgraduate Linguistics di Leidse Rijksuniversiteit Leiden, Belanda. Tahun 1975 ia memperoleh gelar Doktor Ilmu Sastra dengan pengkhususan linguistik di Universitas Indonesia, Jakarta, melalui disertasi yang berjudul Morfologi Kata Kerja Bahasa Gorontalo.

Sebagai orang yang sangat peduli terhadap dunia pendidikan, khususnya pendidikan bahasa Indonesia, Badudu telah mengabdikan diri sebagai guru sejak usia 15 tahun 5 bulan. Ia menjadi guru sekolah dasar di Ampana, Sulawesi Tengah hingga tahun 1951. Pada tahun 1951—1955 ia menjadi guru SMP di Poso, Sulawesi Tengah, dan pada tahun 1955—1964 menjadi guru SMA di Bandung. Ia juga pernah menyumbangkan tenaga sebagai dosen di Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran, Bandung pada tahun 1965 –1991.

Tahun 1982—sekarang, Badudu menjadi guru besar linguistik pada Program Pascasarjana (S2 dan S3) Universitas Padjadjaran Bandung dan Universitas Pendidikan Bandung (dulu IKIP Bandung). Ia juga menjadi guru besar di Universitas Pakuan Bogor pada tahun 1991—sekarang dan di Universitas Nasional Jakarta pada tahun 1994—sekarang (tidak aktif memberikan kuliah, tugas diserahkan kepada asisten). Ia juga pernah, selama tiga tahun, menatar guru-guru sekolah dasar di enam provinsi (Sumatra Barat, D. I. Aceh, Sulawesi Utara, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan D.I. Yogyakarta) dalam proyek PEQIP (Prelimenary Education Quality Improvement Project), sebuah lembaga bantuan Jerman yang bekerja sama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Departemen Pendidikan Nasional). Tahun 1995—1997, ia mengunjungi setiap provinsi itu 2 kali dalam setahun.

Tokoh bahasa ini juga dikenal sebagai pembawa acara Siaran Pembinaan Bahasa Indonesia di TVRI Pusat Jakarta (1977—1979) dan sebagai penatar bahasa Indonesia untuk berbagai lapisan masyarakat, seperti mahasiswa, dosen, guru, wartawan, pegawai pemerintah, dan polisi. Ia juga sering menyajikan makalah di luar negeri, seperti Belanda, Inggris, Prancis, Amerika Serikat, Australia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Jepang.

Dalam usia 76 tahun saat ini Badudu tidak hanya aktif sebagai guru, dosen, penatar bahasa Indonesia, tetapi juga aktif sebagai penulis artikel tentang bahasa Indonesia di surat kabar dan majalah. Sejak tahun 1977 hingga sekarang, ia menjadi penulis atau pengisi rubrik tentang pembinaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di majalah Intisari Jakarta. Keaktifan Badudu menulis buku-buku yang berisi tuntunan tentang penggunaan bahasa Indonesia untuk pelajar, mahasiswa, dan umum, dapat dibaca melalui karyanya:
1) Pelik-Pelik Bahasa Indonesia;
2) Membina Bahasa Indonesia Baku (2 jilid);
3) Bahasa Indonesia: Anda bertanya? Inilah jawabnya;
4) Ejaan Bahasa Indonesia;
5) Sari Kesusasteraan Indonesia untuk SMA (2 jilid);
6) Buku dan Pengarang;
7) Belajar memahami Peribahasa (6 jiIid);
8) Peribahasa;
9) Mari Membina Bahasa Indonesia Seragam (3 jilid); dan
10) Penuntun Ujian Bahasa Indonesia untuk SMP (Catatan: Buku no. 7 s.d. 10 tidak diterbitkan lagi).

Badudu juga pernah melakukan penelitian bahasa, antara lain:
1) Morfologi Bahasa Indonesia Lisan (Pusat Bahasa);
2) Morfologi Bahasa Indonesia Tulisan (Pusat Babasa);
3) Perkembangan Puisi Indonesia Tahun 20-an hingga tahun 40-an (Pusat Bahasa);
4) Buku Panduan Penulisan Tata Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Pertama (Pusat Bahasa);
5) “Bahasa Indonesia di Daerah Perbatasan Bogor—Jakarta“ (Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran Bandung).

Sebagai pakar bahasa yang sangat berpengalaman, Badudu juga telah menyusun beberapa kamus, antara lain:

1) Kamus Ungkapan Bahasa Indonesia;
2) Kamus Umum Bahasa Indonesia (Bedudu — Zain);
3) “Kamus Bahasa Indonesia untuk Pendidikan Dasar” (sedang diselesaikan);
4) “Kamus Kata-Kata Serapan Asing Bahasa Indonesia” (segera terbit).

Di masa pengabdian sebagai dosen dan guru besar, Badudu membimbing penulisan tesis mahasiswa S2 dan disertasi mahasiswa S3. Tujuh orang di antaranya sekarang telah menjadi guru besar (profesor) dan tersebar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, seperti Universitas Padjadjaran, Universitas Pendidikan Bandung, Universitas Hasanuddin (Makassar), STKIP Gorontalo, Universitas Sumatra Utara, dan Universitas Lambung Mangkurat (Samarinda).

Sebagai guru dan dosen bahasa Indonesia selama 49 tahun, Badudu pernah menerima bintang jasa Pemerintah RI, yaitu Satyalencana 25 tahun Pengabdian dan Bintang Mahaputra yang diserahkan sendiri oleh Presiden Megawati Sukarnoputri pada tanggal 15 Agustus 2001 di Istana Negara. Bintang jasa itu diberikan pemerintah sebagai penghargaan atas jasanya membina bahasa Indonesia selama bertahun-tahun bagi seluruh lapisan masyarakat.

Badudu didampingi istri yang sangat setia, Eva Henriette Alma Badudu—Koroh. Mereka menikah 9 Mei 1953. Buah perkawinan mereka menghasilkan 9 putra-putri, yaitu Dharmayanti Francisca, Erwin Suryawan, Chandramulia Satriawan, Chitra Meilani, Armand Edwin, Rizal Indrayana, Sari Rezeki Adrianita, Mutia Indrakemala, dan Jussar Laksmikusala.

Cerpen : Pengemis dan Shalawat Badar

PENGEMIS DAN SHALAWAT BADAR


Bus yang aku tumpangi masuk terminal Cirebon ketika matahari hampir mencapai pucuk langit. Terik matahari ditambah dengan panasnya mesin disel tua memanggang bus itu bersama isinya. Untung bus tak begitu penuh sehingga sesama penumpang tak perlu bersinggungan badan. Namun dari sebelah kiriku bertiup bau keringat melalui udara yang dialirkan dengan kipas koran. Dari belakang terus-menerus mengepul asap rokok dari mulut seorang lelaki setengah mengantuk.

Begitu bus berhenti, puluhan pedagang asongan menyerbu masuk. Bahkan beberapa di antara mereka sudah membajing loncat ketika bus masih berada di mulut termi­nal. Bus menjadi pasar yang sangat hiruk-pikuk. Celakanya, mesin bus tidak dimatikan dan sopir melompat turun begitu saja. Dan para pedagang asongan itu menawarkan dagangan dengan suara melengking agar bisa mengatasi derum mesin. Mereka menyodor-nyodorkan dagangan, bila perlu sampai dekat sekali ke mata para penumpang. Kemudian mereka mengeluh ketika mendapati tak seorang pun mau berbelanja. Seorang di antara mereka malah mengutuk dengan mengatakan para penumpang adalah manusia-manusia kikir, atau manusia-manusia yang tak punya duit.

Suasana sungguh gerah, sangat bising dan para penum­pang tak berdaya melawan keadaan yang sangat menyiksa itu. Dalam keadaan seperti itu, harapan para penumpang hanya satu; hendaknya sopir cepat datang dan bus segera bergerak kembali untuk meneruskan perjalanan ke Jakarta. Namun laki-laki yang menjadi tumpuan harapan itu kelihatan sibuk dengan kesenangannya sendiri. Sopir itu enak-enak bergurau dengan seorang perempuan penjual buah.

Sementara para penumpang lain kelihatan sangat gelisah dan jengkel, aku mencoba bersikap lain. Perjalanan semacam ini sudah puluhan kali aku alami. Dari pengalaman seperti itu aku mengerti bahwa ketidaknyamanan dalam perjalanan tak perlu dikeluhkan karena sama sekali tidak mengatasi keadaan. Supaya jiwa dan raga tidak tersiksa, aku selalu mencoba berdamai dengan keadaan. Maka kubaca semuanya dengan tenang: Sopir yang tak acuh terhadap nasib para penumpang itu, tukang-tukang asongan yang sangat berisik itu, dan lelaki yang setengah mengantuk sambil mengepulkan asap di belakangku itu.

Masih banyak hal yang belum sempat aku baca ketika seorang lelaki naik ke dalam bus. Celana, baju, dan kopiahnya berwarna hitam. Dia naik dari pintu depan. Begitu naik lelaki itu mengucapkan salam dengan fasih. Kemudian dari mulutnya mengalir Shalawat Badar dalam suara yang bening. Dan tangannya menengadah. Lelaki itu mengemis. Aku membaca tentang pengemis ini dengan perasaan yang sangat dalam. Aku dengarkan baik-baik shalawatnya. Ya, persis. Aku pun sering membaca shalawat seperti itu terutama dalam pengajian-pengajian umum atau rapat-rapat. Sekarang kulihat dan kudengar sendiri ada lelaki membaca shalawat badar untuk mengemis.

Kukira pengemis itu sering mendatangi pengajian-penga­jian. Kukira dia sering mendengar ceramah-ceramah tentang kebaikan hidup baik dunia maupun akhirat. Lalu dari pengajian seperti itu dia hanya mendapat sesuatu untuk membela kehidupannya di dunia. Sesuatu itu adalah Shala­wat Badar yang kini sedang dikumandangkannya sambil menadahkan tangan.

Semula ada perasaan tidak setuju mengapa hal-hal yang kudus seperti bacaan shalawat itu dipakai untuk mengemis. Tetapi perasaan demikian lenyap ketika pengemis itu sudah berdiri di depanku. Mungkin karena shalawat itu maka tanganku bergerak merogoh kantong dan memberikan selembar ratusan. Atau karena ada banyak hal dapat dibaca pada wajah si pengemis itu.

Di sana aku lihat kebodohan, kepasrahan yang memperkuat penampilan kemiskinan. Wajah-wajah seperti itu sa­ngat kuhafal karena selalu hadir mewarnai pengajian yang sering diawali dengan Shalawat Badar. Ya. Jejak-jejak pengajian dan ceramah-ceramah tentang kebaikan hidup ada berbekas pada wajah pengemis itu. Lalu mengapa dari pengajian yang sering didatanginya ia hanya bisa menghafal Shalawat Badar dan kini menggunakannya untuk mengemis? Ah, kukira ada yang tak beres. Ada yang salah" Sayangnya, aku tak begitu tega menyalahkan pengemis yang terus membaca shalawat itu.

Perhatianku terhadap si pengemis terputus oleh bunyi pintu bus yang dibanting. Kulihat sopir sudah duduk di belakang kemudi. Kondektur melompat masuk dan berte-riak kepada sopir. Teriakannya ditelan oleh bunyi mesin disel yang meraung-raung. Kudengar kedua awak bus itu bertengkar. Kondektur tampaknya enggan melayani bus yang tidak penuh, sementara sopir sudah bosan menunggu tambahan penumpang yang ternyata tak kunjung datang. Mereka terus bertengkar melalui kata-kata yang tak sedap didengar. Dan bus terus melaju meninggalkan terminal Cirebon.

Sopir yang marah menjalankan busnya dengan gila-gilaan. Kondektur diam. Tetapi kata-kata kasarnya mendadak tumpah lagi. Kali ini bukan kepada sopir, melainkan kepada pengemis yang jongkok dekat pintu belakang.

"He, sira! Kenapa kamu tidak turun? Mau jadi gembel di Jakarta? Kamu tidak tahu gembel di sana pada dibuang ke laut dijadikan rumpon?"

Pengemis itu diam saja.

"Turun!"

"Sira beli mikir! Bus cepat seperti ini aku harus turun?"

"Tadi siapa suruh kamu naik?"

"Saya naik sendiri. Tapi saya tidak ingin ikut. Saya cuma mau ngemis, kok. Coba, suruh sopir berhenti. Nanti saya akan turun. Mumpung belum jauh."

Kondektur kehabisan kata-kata. Dipandangnya pengemis itu seperti ia hendak menelannya bulat-bulat. Yang dipandang pasrah. Dia tampaknya rela diperlakukan sebagai apa saja asal tidak didorong keluar dari bus yang melaju makin cepat. Kondektur berlalu sambil bersungut. Si pengemis yang merasa sedikit lega, bergerak memperbaiki posisinya di dekat pintu belakang. Mulutnya kembali bergumam: "... shalatullah, salamullah, 'ala thaha rasulillah...."

Shalawat itu terus mengalun dan terdengar makin jelas karena tak ada lagi suara kondektur. Para penumpang membisu dan terlena dalam pikiran masing-masing. Aku pun mulai mengantuk sehingga lama-lama aku tak bisa membedakan mana suara shalawat dan mana derum mesin diesel. Boleh jadi aku sudah berada di alam mimpi dan di sana kulihat ribuan orang membaca shalawat. Anehnya, mereka yang berjumlah banyak sekali itu memiliki rupa yang sama. Mereka semuanya mirip sekali dengan pengemis yang naik dalam bus yang kutumpangi di terminal Cirebon. Dan dalam mimpi pun aku berpendapat bahwa mereka bisa menghafal teks shalawat itu dengan sempurna karena mereka sering mendatangi ceramah-ceramah tentang kebaikan hidup di dunia maupun akhirat. Dan dari ceramah-ceramah seperti itu mereka hanya memperoleh hafalan yang untungnya boleh dipakai modal menadahkan tangan.

Kukira aku masih dalam mimpi ketika kurasakan peristiwa yang hebat. Mula-mula kudengar guntur meledak de­ngan suara dahsyat. Kemudian kulihat mayat-mayat beterbangan dan jatuh di sekelilingku. Mayat-mayat itu terluka dan beberapa di antaranya kelihatan sangat mengerikan. Karena merasa takut aku pun lari. Namun sebuah batu tersandung dan aku jatuh ke tanah. Mulut terasa asin dan aku meludah. Ternyata ludahku merah. Terasa ada cairan mengalir dari lubang hidungku. Ketika kuraba, cairan itu pun merah. Ya Tuhan. Tiba-tiba aku tersadar bahwa diriku terluka parah. Aku terjaga dan di depanku ada malapetaka. Bus yang kutumpangi sudah terkapar di tengah sawah dan bentuknya sudah tak keruan. Di dekatnya terguling sebuah truk tangki yang tak kalah ringseknya. Dalam keadaan panik aku mencoba bangkit bergerak ke jalan raya. Namun rasa sakit memaksaku duduk kembali. Kulihat banyak kendaraan berhenti. Kudengar orang-orang merintih. Lalu samar-samar kulihat seorang lelaki kusut keluar dari bangkai bus. Badannya tak tergores sedikit pun. Lelaki itu dengan tenang berjalan kembali ke arah kota Cirebon.

Telingaku dengan gamblang mendengar suara lelaki yang terus berjalan dengan tenang ke arah timur itu: "shalatullah, salamullah, 'ala thaha rasulillah..."

Biografi : HB Jassin

H.B Jassin

Paus Sastra Indonesia

Sejarah mencatat, sepanjang hidupnya HB Jassin menumpahkan perhatiannya mendorong kemajuan sastra-budaya di Indonesia. Berkat ketekunan, ketelitian dan ketelatenannya, ia dikenal sebagai kritisi sastra terkemuka sekaligus dokumentator sastra terlengkap. Kini, kurang lebih 30 ribu buku dan majalah sastra, guntingan surat kabar, dan catatan-catatan pribadi pengarang yang dihimpunnya tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Begitu besarnya pengaruh HB Jasin di antara kalangan sastrawan, Gajus Siagian (almarhum) menjulukinya “Paus Sastra Indonesia”. Saat itu berkembang suatu ‘keadaan’ dimana seseorang dianggap sastrawan yang sah dan masuk dalam ‘kalangan dalam’ bila HB Jassin sudah ‘membabtisnya’. Meski kedengarannya berlebihan namun begitulah adanya.

Saat itu, ada beberapa pengarang yang lama berada di ‘kalangan luar’ sebelum akhirnya diakui masuk dalam ‘kalangan dalam’ seperti Motinggo Busye, Marga T yang aktif produktif mengarang, dan penulis novel-pop lainnya. Padahal karya-karya mereka cukup baik, berseni dan bernilai bernas. Mereka lama berada di ‘kalangan luar’ karena "pengaruh besar kepausan" HB Jassin. HB Jassin jugalah yang menobatkan Chairil Anwar sebagai pelopor Angkatan '45. Lebih dari 30 tahun, julukan itu disandangnya.

Jassin rajin dan tekun mendokumentasikan karya sastra, dan segala yang berkaitan dengannya. Dari tangannya lahir sekitar 20 karangan asli, dan 10 terjemahan. Yang paling terkenal adalah Gema Tanah Air, Tifa Penyair dan Daerahnya, Kesusasteraan Indonesia Baru Masa Jepang, Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai (empat jilid, 1954-1967) dan tafsir Alquran dalam buku Qur'an Bacaan Mulia. Pada saat ulang tahunnya ke-67, PT Gramedia menyerahkan ''kado'' buku Surat-Surat 1943-1983 yang saat itu baru saja terbit. Di dalamnya terhimpun surat Jassin kepada sekitar 100 sastrawan dan seniman Indonesia.

Jassin memulai dan meneruskan kariernya dari banyak membaca. Lahir 31 Juli 1917 di Gorontalo, Sulawesi Utara, anak kedua dari enam bersaudara ini berayahkan seorang bekas kerani BPM yang ''kutu'' buku. Jassin mulai gemar membaca tidak lama setelah duduk di bangku HIS (SD). ''Waktu itu, cara membangkitkan minat baca murid sangat bagus,'' tuturnya tentang sekolah yang mengajarkannya teknik mengarang dan memahami puisi. Teknik mengarang dan memahami posisi sudah dipelajarinya sejak masih duduk di HIS (SD). Di HBS Medan -- saat ikut ayahnya yang pindah ke BPM Pangkalanbrandan, Sumatera Utara -- ia mulai menulis kritik sastra, dan dimuat di beberapa majalah.

Bekerja di kantor Asisten Residen Gorontalo seusai HBS -- tanpa gaji -- memberinya kesempatan mempelajari dokumentasi secara baik. Tetapi, belakangan Jassin menerima tawaran Sutan Takdir Alisjahbana, waktu itu redaktur Balai Poestaka, bekerja di badan penerbitan Belanda itu, 1940. Di sana ia juga berkarya sebagai penulis cerpen dan sajak.

Tak lama kemudian ia beralih ke bidang kritik serta dokumentasi sastra. Adalah Armijn Pane yang mengajarinya membuat timbangan buku dengan lebih baik. Inilah awal jabatannya sebagai redaktur berbagai majalah sastra dan budaya, seperti Pandji Poestaka dan Pantja Raja, lalu setelah Indonesia merdeka, di Mimbar Indonesia, Zenith, Kisah, Sastra, Bahasa dan Budaya, Buku Kita, Medan Ilmu Pengetahuan, dan Horison.

Bekas Lektor Sastra Indonesia Modern Fakultas Sastra UI ini tetap belajar sambil mengajar. Gelar sarjana sastra diraihnya pada 1957, dan doktor honoris causa, delapan belas tahun kemudian -- keduanya di FS UI. Ia juga sempat mendalami ilmu perbandingan sastra di Universitas Yale, AS. Ia menguasai bahasa Inggris, Belanda, Prancis, dan Jerman.

Ada kisah unik saat ia menempuh pendidikan di UI. Saat itu, HB Jassin merangkap sebagai mahasiswa dan mahaguru sekaligus. Ketika kuliah sastra-lama, terutama mata pelajaran Jawa Kuno, Sanskerta, HB Jassin menjadi mahasiswa, tekun duduk bersama mahasisawa lainnya dan penuh perhatian pada matakuliahnya. Tetapi begitu berganti matakuliah Sastra Modern, Masa Kekinian, HB Jassin berdiri dan maju ke depan, berdiri di podium lalu memberi kuliah, karena memang sebagai doktor Sastra Modern.

Jadi dalam satu hari pada dua matakuliah, ia sekaligus bisa menjadi mahasiswa dan bisa menjadi mahaguru. Pada masa itu, orang seperti dia masih sangat langka. Ia memberikan teladan kepada para mahasiswa dengan rajin belajar, tekun, teliti dan sungguh-sungguh.

HB Jassin terbilang bukan orang yang ahli berdebat atau ahli berbicara di depan umum. Ia adalah orang yang menulis, berpikir lalu menuliskannya, tekun, rajin, dan berhati-hati. Seringkali saat diajak berdebat di depan forum resmi, ia tidak meladeninya. Karena itu pula pada banyak kesempatan pada beberapa kali simposium sastra-budaya, konggres, konferensi, seminar, dia selalu menolak untuk berbicara yang sifatnya akan ada perdebatan.

Pria yang tidak suka berdebat ini tidak bisa bersepeda. Ia lebih sering jalan kaki meski ada kalanya naik bis, becak dan kendaraan umum lainnya. Mungkin karena kebiasaannya itu ia panjang umur dan selalu dalam keadaan sehat pada zamannya.

''Wali Penjaga Sastra Indonesia'' -- julukan dari ahli sastra Indonesia Prof. A.A. Teeuw -- ini pernah terganyang dan dikecam. Setelah menandatangani Manifes Kebudayaan (''Manikebu''), ia dituding oleh kelompok Lekra sebagai anti Soekarno. Akibatnya, ia dipecat dari Lembaga Bahasa Departemen P & K dan staf pengajar UI.

Namun, HB Jassin mampu bersikap jujur. Mengomentari buku Pramudya Ananta Toer, Bumi Manusia, ia menilainya tidak mengandung hal-hal yang melanggar hukum. Pelarangan terhadap buku itu lebih banyak karena dikarang oleh bekas tokoh Lekra.

Cerpen Ki Panji Kusmin, Langit Makin Mendung, yang dimuat HB Jassin dalam Sastra, 1971, sempat dianggap ''menghina Tuhan''. Di pengadilan, ia diminta mengungkapkan nama Ki Panji Kusmin sebenarnya. Permintaan ditolaknya. Akibatnya, HB Jassin dihukum satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun.

Kritik sastranya bersifat edukatif dan apresiatif serta lebih mementingkan kepekaan dan perasaan daripada teori ilmiah sastra. Hasil dokumentasinya lebih dari 40 tahun -- termasuk 30 ribu buku dan majalah sastra, guntingan surat kabar, dan catatan-catatan pribadi pengarang -- telah dihimpun dan disimpan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Pria gemuk pendek ini menikah tiga kali. Istri pertama, Tientje van Buren, wanita Indo yang suaminya orang Belanda yang disekap Jepang, pisah cerai. Lalu Arsiti, ibu dua anaknya, meninggal pada 1962. Sekitar 10 bulan kemudian ia menikahi gadis kerabatnya sendiri, Yuliko Willem, yang terpaut usia 26 tahun. Yuliko juga memberinya dua anak. Dari kedua istri ini, ia memiliki empat anak, yakni Hannibal Jassin, Mastinah Jassin, Yulius Firdaus Jassin, Helena Magdalena Jassin, 10 orang cucu, dan seorang cicit.

Ia meninggal pada usia 83 tahun, Sabtu dini hari, 11 Maret 2000 saat dirawat akibat penyakit stroke yang sudah dideritanya selama bertahun-tahun di Paviliun stroke Soepardjo Rustam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Sebagai penghormatan, ia dimakamkan dalam upacara kehormatan militer "Apel Persada" di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta.

***


Apa Kata Mereka
Kalangan sastra melihat HB Jassin sebagai pendokumentasi sastra yang sangat ulung dan sangat tekun. Menurut pengarang Budi Darma, peran Jassin sangat penting apalagi mengingat masyarakat Indonesia yang abai terhadap soal-soal dokumentasi dan kesadaran sejarahnya sangat rendah. Akibatnya banyak yang cenderung mengulang-ulang. Tambahnya ketika dihubungi di Surabaya, "ia juga kritikus sastra formal yang pertama. Sebelumnya seperti Sutan Takdir Alisjahbana, Armiyn Pane atau Amir Hamzah lebih banyak menulis puisi atau novel."

Penyair Sapardi Djoko Damono menilai, dewasa ini banyak orang sekaliber HB Jassin, bahkan melebihinya. "Tetapi orang yang setia pada sastra seperti Pak Jassin tidak ada lagi. Selama 60 tahun hanya itu pekerjaannya," ujar Sapardi yang pernah menjadi editor pada buku HB Jassin 70 Tahun, terbitan PT Gramedia tahun 1987.

Menurut sejarawan Taufik Abdullah, HB Jassin adalah tokoh yang luar biasa dalam bidang sastra karena bisa memperkenalkan sastra kepada anak muda tahun 1950-an, yang sulit ditemui pada zaman sekarang. Yang lebih penting lagi, HB Jassin adalah pemelihara dokumentasi sastra terpenting di Indonesia. Tambahnya, "Dengan itu kita bisa menulis lebih baik."

Mantan Ketua Dewan Kesenian Jakarta Dr Salim Said berpendapat, HB Jassin adalah pencari bakat terbesar yang dimiliki Indonesia. Dia pula satu-satunya sastrawan Indonesia yang diakui pemerintah dalam bentuk anugerah Bintang Mahaputera, sehingga HB Jassin dimakamkan secara militer. Ia menilai HB Jassin banyak menemukan pengarang-pengarang muda berbakat yang dia dorong untuk menjadi pengarang.

Kalangan seniman yang lebih muda pun tetap merasakan jasa Jassin. Penyair Dorothea Rosa Herliany (37) yang ditanya di Magelang, Jawa Tengah, mengaku tersentuh oleh sikap Jassin yang dalam keadaan sakit masih memperhatikan cerpen-cerpen anak muda.

Kepada wartawan, Gus Dur berkata, "Saya dibesarkan dalam tulisan beliau di Mimbar Indonesia dan beberapa buku. Saya menghormati beliau, karena beliau adalah raksasa tempat kita berutang kepadanya." Gus Dur mengaku terkesan dengan tulisan asli HB Jassin berjudul Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei, yang pertama kali diterbitkan tahun 1954.


Dongeng : Putri Tidur

Putri Tidur

Dahulu kala, terdapat sebuah negeri yang dipimpin oleh raja yang sangat adil dan bijaksana. Rakyatnya makmur dan tercukupi semua kebutuhannya. Tapi ada satu yang masih terasa kurang. Sang Raja belum dikaruniai keturunan. Setiap hari Raja dan permaisuri selalu berdoa agar dikaruniai seorang anak. Akhirnya, doa Raja dan permaisuri dikabulkan. Setelah 9 bulan mengandung, permaisuri melahirkan seorang anak wanita yang cantik. Raja sangat bahagia, ia mengadakan pesta dan mengundang kerajaan sahabat serta seluruh rakyatnya. Raja juga mengundang 7 penyihir baik untuk memberikan mantera baiknya.

"Jadilah engkau putri yang baik hati", kata penyihir pertama. "Jadilah engkau putri yang cantik", kata penyihir kedua. "Jadilah engkau putri yang jujur dan anggun", kata penyihir ketiga. "Jadilah engkau putri yang pandai berdansa", kata penyihir keempat. "Jadilah engkau putri yang panda menyanyi," kata penyihir keenam. Sebelum penyihir ketujuh memberikan mantranya, tiba-tiba pintu istana terbuka. Sang penyihir jahat masuk sambil berteriak, "Mengapa aku tidak diundang ke pesta ini?".

Penyihir terakhir yang belum sempat memberikan mantranya sempat bersembunyi dibalik tirai. "Karena aku tidak diundang, aku akan mengutuk anakmu. Penyihir tua yang jahat segera mendekati tempat tidur sang putri sambil berkata,"Sang putri akan mati tertusuk jarum pemintal benang, ha ha ha ha…..". Si penyihir jahat segera pergi setelah mengeluarkan kutukannya.

Para undangan terkejut mendengar kutukan sang penyihir jahat itu. Raja dan permaisuri menangis sedih. Pada saat itu, muncullah penyihir baik yang ketujuh, "Jangan khawatir, aku bisa meringankan kutukan penyihir jahat. Sang putri tidak akan wafat, ia hanya akan tertidur selama 100 tahun setelah terkena jarum pemintal benang, dan ia akan terbangun kembali setelah seorang Pangeran datang padanya", ujar penyihir ketujuh. Setelah kejadian itu, Raja segera memerintahkan agar semua alat pemintal benang yang ada di negerinya segera dikumpulkan dan dibakar.

Enam belas tahun kemudian, sang putri telah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan baik hati. Tidak berapa lama Raja dan Permaisuri melakukan perjalanan ke luar negeri. Sang Putri yang cantik tinggal di istana. Ia berjalan-jalan keluar istana. Ia masuk ke dalam sebuah puri. Di dalam puri itu, ia melihat sebuah kamar yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ia membuka pintu kamar tersebut dan ternyata di dalam kamar itu, ia melihat seorang nenek sedang memintal benang. Setelah berbicara dengan nenek tua, sang Putri duduk di depan alat pemintal dan mulai memutar alat pemintal itu. Ketika sedang asyik memutar alat pintal, tiba-tiba jari sang Putri tertusuk jarum alat pemintal. Ia menjerit kesakitan dan tersungkur di lantati. "Hi… hi…hi… tamatlah riwayatmu!", kata sang nenek yang ternyata adalah si penyihir jahat.

Hilangnya sang Putri dan istana membuat khawatir orang tuanya. Semua orang diperintahkan untuk mencari sang Putri. Sang putri pun ditemukan. Tetapi ia dalam keadaan tak sadarkan diri. "Anakku ! malang sekali nasibmu…" rata Raja. Tiba-tiba datanglah penyihir muda yang baik hati. Katanya, "Jangan khawatir, Tuan Putri hanya akan tertidur selama seratus tahun. Tapi, ia tidak akan sendirian. Aku akan menidurkan kalian semua," lanjutnya sambil menebarkan sihirnya ke seisi istana. Kemudian, penyihir itu menutup istana dengan semak berduri agar tak ada yang bisa masuk ke istana.

Seratus tahun yang panjang pun berlalu. Seorang pangeran dari negeri seberang kebetulan lewat di istana yang tertutup semak berduri itu. Menurut cerita orang desa di sekitar situ, istana itu dihuni oleh seekor naga yang mengerikan. Tentu saja Pangeran tidak percaya begitu saja pada kabar itu. "Akan ku hancurkan naga itu," kata sang Pangeran. Pangeran pun pergi ke istana. Sesampai di gerbang istana, Pangeran mengeluarkan pedangnya untuk memotong semak belukar yang menghalangi jalan masuk. Namun, setelah dipotong berkali-kali semak itu kembali seperti semula. "Semak apa ini ?" kata Pangeran keheranan. Tiba-tiba muncullah seorang penyihir muda yang baik hati. "Pakailah pedang ini," katanya sambil memberikan sebuah yang pangkalnya berkilauan.

Dengan pedangnya yang baru, Pangeran berhasil masuk ke istana. "Nah, itu dia menara yang dijaga oleh naga." Pangeran segera menaiki menara itu. Penyihir jahat melihat kejadian itu melalui bola kristalnya. "Akhirnya kau datang, Pangeran. Kau pun akan terkena kutukan sihirku!" Penyihir jahat itu bergegas naik ke menara. Ia menghadang sang Pangeran. "Hai Pangeran!, jika kau ingin masuk, kau harus mengalahkan aku terlebih dahulu!" teriak si Penhyihir. Dalam sekejap, ia merubah dirinya menjadi seekor naga raksasa yang menakutkan. Ia menyemburkan api yang panas.

Pangeran menghindar dari semburan api itu. Ia menangkis sinar yang terpancar dari mulut naga itu dengan pedangnya. Ketika mengenai pangkal pedang yang berkilau, sinar itu memantul kembali dan mengenai mata sang naga raksasa. Kemudian, dengan secepat kilat, Pangeran melemparkan pedangnya ke arah leher sang naga. "Aaaa….!" Naga itu jatuh terkapar di tanah, dan kembali ke bentuk semula, lalu mati. Begitu tubuh penyihir tua itu lenyap, semak berduri yang selama ini menutupi istana ikut lenyap. Di halaman istana, bunga-bunga mulai bermekaran dan burung-burung berkicau riang. Pangeran terkesima melihat hal itu. Tiba-tiba penyihir muda yang baik hati muncul di hadapan Pangeran.

"Pangeran, engkau telah berhasil menghapus kutukan atas istana ini. Sekarang pergilah ke tempat sang Putri tidur," katanya. Pangeran menuju ke sebuah ruangan tempat sang Putri tidur. Ia melihat seorang Putri yang cantik jelita dengan pipi semerah mawar yang merekah. "Putri, bukalah matamu," katanya sambil mengenggam tangan sang Putri. Pangeran mencium pipi sang Putri. Pada saat itu juga, hilanglah kutukan sang Putri. Setelah tertidur selama seratus tahun, sang Putri terbangun dengan kebingungan. "Ah… apa yang terjadi…? Siapa kamu…? Tanyanya. Lalu Pangeran menceritakan semua kejadian yang telah terjadi pada sang Putri.

"Pangeran, kau telah mengalahkan naga yang menyeramkan. Terima kasih Pangeran," kata sang Putri. Di aula istana, semua orang menunggu kedatangan sang Putri. Ketika melihat sang Putri dalam keadaan sehat, Raja dan Permaisuri sangat bahagia. Mereka sangat berterima kasih pada sang Pangeran yang gagah berani. Kemudian Pangerang berkata, "Paduka Raja, hamba punya satu permohonan. Hamba ingin menikah dengan sang Putri." Raja pun menyetujuinya. Semua orang ikut bahagia mendengar hal itu. Hari pernikahan sang Putri dan Pangeran pun tiba. Orang berbondong-bondong datang dari seluruh pelosok negeri untuk mengucapkan selamat. Tujuh penyihir yang baik juga datang dengan membawa hadiah.

Sepuluh Strategi dalam Belajar

Sepuluh Strategi dalam Belajar

Seorang siswa akan memperoleh prestasi yang memuaskan apabila ia menyadari, bertanggung jawab, dan mengetahui cara belajar yang efisien. Penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli psikologi, maupun oleh penulis sendiri, menunjukkan bahwa ada perbedaan yang berarti dalam prestasi belajar antara siswa yang secara efekti menggunakan strategi dalam belajar dengan siswa yang tidak menggunaknnya. Cara belajar yang tepat akan mencapai hasil yang memuaskan dan cara yang tidak tepat akan mencapai hasil yang kurang memuaskan. Oleh sebab itu, penggunaan strategi dalam belajar perlu dimiliki oelh setiap siswa pada semua tingkatan.

Dalam proses belajar, baik di tingkat sekolah dasar maupun sekolah lanjutan, pengaturan diri dalam belajar merupakan suatu pendekatan yang penting. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa lingkungan pun tidak menjamin proses belajar dapat berjalan dengan baik, tanpa diiringi perilaku-perilaku yang dapat mendukung proses belajar. Jadi, dalam hal ini, pengaturan diri dalam belajar dipusatkan pada bagaimana para siswa secara aktif mengatur dan mendukung proses belajar sendiri.

Beberapa ahli psikologi telah melakukan srangkaian penelitian tentang penggunaan strategi-strategi pengaturan diri dalam belajar terhadap sejumlah siswa di tingkat dasar maupun lanjutan untuk menggali pengalaman mereka dalam menggunakan strategi belajar (penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode wawancara berstruktur). Dari hasil wawancara diperoleh berbagai strategi dalam belajar yang umumnya dilakukan para siswa, yaitu:

1. Evaluasi diri (penilaian diri)

Siswa mempunyaiprakarsa sendiri untuk menilai kualitas atau kemajuan pekerjaan mereka sendiri.

2. Mengorganisasi dan mengubah

Siswa mempunyai prakarsa sendiri untuk mengatur kembali bahan-bahan pelajaran untukmemperbaiki cara belajarnya sendiri.

3. Menentukan rencana dan tujuan.

Menentukan rencana dan tujuan yang menyangkut penentuan terget untuk melengkapi tugas/kegiatan belajar.

4. Mencari informasi

Usaha siswa untuk mendapatkan informasi dari suber-sumber nonsosial (tertuis) ketika mengerjakan tugas-tugas sekolah.

5. Mencatat dan memonitor

Usaha siswa untuk merekam kejadian-kejadian atau hasil-hasil belajar.

6. Mengatur lingkungan

Usaha siswa untuk memilih atau mengubah lingkungan belajar agar dapat belajar dengan baik .

7. Konsekuensi diri

Menunjuk pada rencana atau imajinasi siswa tentang hadiah atau hukuman yang akan diberikan untukkeberhasilan atau kegagalan didri sendiri.

8. Mengulang danmengingat

Usaha siswa untukmengingat bahan-bahan dalam bentuk latihan dalam hati maupun bukan.

9. Mencari bantuan

Usaha siswa untuk mencari bantuan dari teman sebaya, atau guru maupun orang dewasalainnya dalam kegiatan belajarnya.

10. Mereview/menelaah catatan/tes/bukupelajaran

Usaha siswa untuk membaca kembali catatan, tes yang sudah lalu, maupun buu-buku pelajaran untukmenghadapai pelajaran di kelas maupun untuk menghadapi ulangan.

Dengan menggunakan strategi-strategi belajar tersebut, diharapkan siswa dapat mencapai prestasi belajar yang optimal. Guru atau orang tua, sebagai pendidik dapat menerapkan strategi-strategi tersebut dalam proses belajar siswa melalui bimbingan secara bertahap. Dengan seringnya guru atau orang tua membimbing siswa / anak malakukan pengaturan diri dalam belajar, siswa atau anak akan terbiasa melakukan strategi belajar tanpa bimbingan lagi. Keadaan ini akan menguntungkan guru / orang tua maupun siswa sendiri dalam proses belajar mereka, sehingga siswa akan memperlihatkan potensinya yang maksimal.

Cerpen : Adam-ku Sayang

ADAM-KU SAYANG

Happy birthday Adam….

Sebuah kalimat terpahat di dinding pada salah satu sisi rumah. Di sisi yang lain juga terdapat coretan-coretan yang meskipun terkesan berantakan tapi kalau diperhatikan sebenarnya menarik juga. Di bawah coretan-coretan itu terdapat beberapa bangku dan sebuah meja. Hari ini ruang ini khusus didekorasi untuk merayakan ulang tahun sahabat kami. Terlihat balon dan pita berwarna warni. Bila kita masuk lebih dalam, pada ruangan selanjutnya ini akan kita temukan coretan-coretan yang jauh lebih berantakan dan urgh … sulit menggambarkannya. Selain sebuah busa yang lumayan lebar, terdapat sebuah meja tempat TV dan DVD. Di sampingnya sebuah rak tempat koleksi kaset dan film, serta beberapa buku. Pada salah satu sudut terdapat sebuah pintu rahasia menuju ruangan bawah tanah yang terlarang. Hanya orang-orang tertentu yang boleh menjamahnya. Sebuah ruangan yang menyimpan benda-benda pribadi, juga untuk rapat. Rumah mungil ini yang telah beralih fungsi menjadi sebuah markas besar ‘The Eternity Gank’.

Sebelumnya, flash back kebeberapa tahun yang lalu. Empat orang remaja tengah membuat suatu perjanjian. Dimana masing-masing dari mereka akan saling menyayangi, saling menjaga, dan saling menerima. Mereka menamai dirinya ‘4ever’. Salah satu anggotanya yang merupakan pentolan 4ever adalah Amri, seorang pria ja’im yang selalu menjaga kewibawaannya. Dibawanya pula kekasih hatinya, Sierra dalam gank ini. Seorang pria lagi Toto, super rame dan super kocak. Dan terakhir seorang gadis yang begitu mencintai dunia sastra. Yaitu aku. 4ever berjalan biasa saja selama lebih dari satu tahun ini. Hingga kemudian masuklah seorang pria lagi dengan postur tubuh extra. Namanya Bono. Bono yang mengenalkan kami dengan seorang pria misterius yang terkesan angkuh. Awalnya dia menolak masuk 4ever, tapi pria pindahan dari Manado itu akhirnya terbujuk. Dialah seorang Adam. Semakin hari Adam semakin dekat dengan kami, semakin berani terbuka dan semakin sering melukiskan senyum memamerkan lesung pipi yang menawan. Diajarkannya pada kami arti sahabat yang sebenarnya, bagaimana menjalani dan mengisi kehidupan dan mengajarkan kami tentang keabadian.

Suatu hari di ruang bawah tanah, kami para wanita tengah membersihkan barang-barang yang telah terbengkalai selama beberapa minggu ini. Tiba-tiba, gubrakk!

“Ya ampun Bon, lu kenapa nungsep gitu?”

“Ni tangga sempit amat she.”

“Ya lu nyalahin tangganya, badan lu tuh kegedean!” Toto mencoba menarik lengan Bono, membantunya bangkit. Tapi kemudian, gedebug brakk!! Keduanya saling tindih di anak tangga paling bawah. Sierra yang sedari tadi menyaksikan tragedi itu meledak tak kuat lagi menahan diri, lantas terbawa selepasnya. Mengundang anak-anak yang lain. Amri menggeleng-geleng di anak tangga pertama, sedangkan Adam mulai turun membantu keduanya. Entah apa tujuan awal Bono dan Toto mengeluarkan cairan berwarna merah hati, mengundang perhatian Sierra.

“Dahi kamu berdarah tuh, To. Am, kotak obat aku pindahin di bawah meja TV.” setelah mengangguk Amri membantu keduanya kembali beserta Adam yang sempat menoleh ke arahku. Dan kami kembali dengan kesibukan kami. Barang-barang disini mudah kotor karena debu, dan yang paling rajin membersihkannya adalah aku. Sierra bersedia membantu kali ini karena ada yang ingin dia ceritakan padaku yang telah bertahun-tahun menjadi pendengar setia segala curhatannya. Dan saat ia mulai melanjutkan ceritanya, terdengar serunya Amri dari atas.

“Ra, kotak obatnya mana? Nggak ketemu ne.”

“Urgh, bentar ya Ras.” Sierra menyandarkan sapu di dinding, kemudian berlari kecil menaiki satu per satu anak tangga. Sunyi benar ruangan ini, saat hanya ada satu nyawa tengah sibuk mengusir debu. Saat aku membalikkan badan setelah urusanku dengan sebuah gucci selesai, aku tersentak dan hampir saja berteriak. Betapa pelan dan tenangnya sosok itu masuk kemari. Hingga aku sama sekali tidak menyadari kedatangannya.

Ada yang bisa aku bantu?”

“Aku bisa sendiri kok. Aku nggak mau ngrepotin kamu.”

“Eh, Ras. Dengerin aku deh, yang namanya temen apalagi se-gank semua hal dikerjakan bersama. Jadi sudah seharusnya kalau kita tuh saling batu.” Aku tersenyum mendengar rentetan kalimatnya.

“Ras, sebenarnya kamu tuh kalau senyum manis juga lho. Harusnya kamu lebih banyak senyum daripada murung. Biar kamu bisa nambah temen.”

“Enak aja, kamu pikir aku nggak punya temen apa?! Sebenarnya temenku banyak, Cuma kamu aja yang nggak tau.”

Jauh dari perkiraanku sebelumnya, ternyata Adam pria yang baik, sopan dan supel. Hanya aku saja yang belum begitu memahaminya.

Jarum jam terpendek telah bergeser satu angka, saat kami para 4ever berkumpul di ruang bawah tanah. Amri sang ketua segera membuka rapat. Dan pokok permasalahan kali ini adalah nama 4ever.

“Kalau dulu kan kita cuma berempat, jadi cocok sama 4ever. Tapi kita kedatangan dua anggota baru. Jadi diilhami dari usul saudara Toto, bagaimana kalau nama 4ever kita ganti? Dan kita cari nama baru untuk gank kita.”

Semuanya tentu setuju. Tapi masalahnya tidak gampang mencari nama baru yang cocok untuk kami. Meskipun muncul banyak ide, kebanyakan ngawur. Hingga haripun berganti.

“Am, emangnya namanya Burger aja. Burger itu begitu berarti, apalagi kalau dagingnya ditebelin, ditambah daun selada, trus sausnya yang puedes. Yummi, cocok banget Am.”

“Cocok buat lu. Nah kita? Ya sebenarnya nggak perlu pake bahasa inggris, tapi ya terserah deh. Mo pake bahasa Indonesia, Inggris, Jepang, Belanda, nggak masalah.”

“Asal bukan bahasa isyarat, iya nggak.” sekali Toto membanyol, seterusnya akan bermunculan banyolan yang lain. Dan ditengah guraukan mereka, muncul sebuah ide menarik dari seorang pria yang duduk di sampingku. Semuanya kembali hening.

“Gimana kalau namanya ‘Eternity’? eh bukan, ‘The Eternity Gank’ kami saling pandang lalu tersenyum.

Senja yang indah. Aku enggan melewatkannya. Dari belakang markas aku bisa menikmati pergantian siang menjadi malam indahnya. Tapi untuk senja kali ini, aku membagi kenikmatannya dengan seorang pria yang selama beberapa hari ini telah menempati ruang kosong dalam hatiku. Yang membantuku menemukan inspirasi untuk menulis. Dia membuatku semangat dan menjadi gadis periang hingga semua orang tidak akan lagi menganggapku kuper. Bahkan tidak hanya senja ini, di senja-senja yang lainpun aku rela jika harus membaginya kembali. Asal hanya dengan pria ini, Adam.

“Kamu suka banget ya, ngliatin warna langit sore begini?”

“He-eh. Aku suka banget. Dulu aku sering nulis disini, tapi sekarang aku disini Cuma sekedar nikmatin fenomena yang nggak bikin penikmatnya bosen. Kamu sadar nggak sih, itu tuh indah banget.” Dari sudut mataku aku lihat Adam memandangiku.

“Ras, makasih ya. Kamu dah nunjukin macam-macam hal menarik buat aku. Kira-kira apa yang bisa aku lakukan buat ngebales semua kebaikan kamu?”

“Eit, tunggu-tunggu. Kamu ni ngomong apa sih? Justru aku yang harusnya berterima kasih sama kamu.” Pria itu menatapku lekat. Seakan memamerkan satu lagi fenomena menarik yang dia punya. Lengkungan didahinya yang memukau. Dan aku melanjutkan kembali kata-kataku. Mencoba berusaha agar tidak terdengar bergetar, biar dadaku saja tak menentu iramanya.

“Ya karena secara tidak langsung kamu dah ngerubah kehidupan aku dan kamu juga yang ngasih warna pada hitam putih hariku. Sampai sekarang aku bisa nulis lagi.”

“Ya tapi coba kamu jawab dulu, hal apa yang lagi kamu pengen sekarang?” aku hanya bisa tersenyum mendengarnya. Kembali menerawang menikmati warna senja yang sebentar lagi akan hilang di ufuk barat sana. Aku tidak ingin apapun darinya. Aku hanya ingin dia menemaniku, bersamaku berbagi senja. Tapi…

“Kamu suka banget senja itu?” aku menoleh kearahnya, kemudian mengangguk. Adam tersenyum, bangkit dan mengambil sebuah gunting di saku jaketnya. Kemudian memainkannya di depan senja. Sesaat dia menoleh padaku yang termangu, setelah kembali duduk disampingku. Tiba-tiba direngkuhnya jemariku, ditaruhnya sesuatu dan digenggamkannya.

“Potongan senja ini khusus buat kamu. Kamu harus simpen baik-baik jangan sampai hilang.” mendengarnya barusan, aku semakin bingung.

“Ya emang abstrak, tapi justru itu nggak akan ada orang yang bisa ngambil ini dari kamu. Dan supaya nggak ada juga yang bisa ngambil kamu dari aku…” bagai menemukan oase di tengah gurun pasir. Seorang Adam, yang selama ini diam-diam aku kagumi. Bisa dibayangkan betapa kisruhnya hatiku. Rasanya dibagian yang terdalam ada yang tengah bersorak, melompat-lompat kegirangan. Apalagi setiap hari semakin dekat saja aku dengannya. Hingga ‘The Eternity Gank’ yang lain mulai mencium gelagat kami. Dan pada suatu hari di ruang bawah tanah. Telah diselenggarakan sidang paripurna dengan dua tersangka, yaitu aku dan Adam. Sudah bisa ditebak, apa yang mereka inginkan dengan diadakannya sidang dadakan ini. Penjelasan akan perasaanku dan Adam. Karena begitu lengkapnya bukti dan saksi mata, kami tidak mungkin lagi mengelak. Hingga tepat pada hari itulah untuk pertama kalinya aku mengutarakan perasaanku pada seorang pria. Tapi aku memang terlalu polos. Meski sudah terjadi perubahan tetap saja aku masih selugu yang dulu. Aku terlalu percaya diri bahwa Adam juga merasakan hal yang sama seperti aku. Ternyata jawabannya berbeda, dan sama sekali tidak pasti.

“Aku akan kasih kamu jawabannya, tapi nggak sekarang. Apa kamu mau nunggu?”

“Berbelit-belit amat she, Dam. Udah langsung aja, tinggal bilang iya tidak gitu doank repot amat. Mo nunggu sampai kapan, kasihan Laras tuh.”

“Ssst…sst…mesin giling. Diem!”

“Maafin aku, Ras. Aku Cuma mau kamu nunggu sampai aku balik dari Manado.”

Manado?” serempak kami tersentak.

“Aku lupa bilang sama kalian kalau besok aku balik ke Manado. Disana kakak perempuanku mau tunangan. Jadi ya nggak mungkin kalau aku nggak dateng.” Serempak kami menghela nafas panjang.

Pagi ini cerah. Aku enggan beranjak dari tempat tidur. Rasanya malas, setelah semalam pesta kembang api menyambut tahun baru. Apalagi untuk menyaksikan kepergian Adam. Sampai Toto menjemputku untuk upacara perpisahan di markas. Seakan tak tahan lagi mereka berlama-lama di pelupuk mataku, maka meneteslah satu demi satu. Tentu aku tidak siap melepas Adam, karena sebelumnya dia tidak pernah cerita apa-apa tentang keluarganya. Juga kakak perempuannya yang akan tunangan. Tapi aku sadar bahwa aku tidak berhak mencegahnya pergi. Kami, ‘The Eternity Gank’ mengantarnya sampai bandara, hingga sebuah mesin raksasa membawanya terbang jauh meninggalkan Surabaya. Untuk mempersingkat waktu Amri membawa kendaraan pribadi. Kurang lebih 20 menit kemudian kami sampai di Lanud Juanda. Tangan kirinya menjinjing sebuah tas lumayan besar. Dan tangan kanannya menggenggam jemariku. Aku diam, tak mampu berkata-kata. Ingin aku keluarkan sebuah pertanyaan, tapi tertahan ditenggorokan. Setalah berjalan beberapa saat, kami berhenti. Adam meletakkan tasnya begitu saja. Menatapku lekat, jauh lebih lekat dari sebelumnya saat kami menikmati senja di belakang markas. Argh..kenapa air mataku menetes lagi. Aku ingin menunjukkan kelemahanku dihadapannya. Tapi dia mengerti, dibenamkannya wajahku di dadanya yang bidang. Dan biarkan aku tenang dalam hangat dekapannya. Hingga tiba saatnya dia harus pergi.

“Kamu cengeng. Aku ja, kita sama. Maaf sepertinya aku menyiksamu, tapi hati kecilku menyuruhku begitu. Kamu sendiri yang bilang, kalau yang paling jujur adalah hati.”

“Aku ngerti. Aku akan nunggu kamu sampai kamu kembali.” dia tersenyum.

“Senja kita mana?”

Ada di saku jaketku.”

“Bagus. Simpan baik-baik, kita bisa kembali menikmatinya lagi nanti.” kami tersenyum. Layaknya sebuah kontes, mencari siapa yang punya lesung pipit paling indah. Dijabatnya erat satu demi satu ‘The Eternity Gank’ sebelum dia melangkah lagi. Di luar bandara kami dapat menyaksikan sebuah mesin raksasa bertittle Adam Air boeing 747 membawa Adam terbang menuju Manado, kota kelahirannya.

Dua hari setelah keberangkatan Adam. Suasana markas tidak lagi seperti dulu. Tak lagi kutemukan keceriaan khas ‘The Eternity Gank’. Entah apa yang disembunyikan teman-teman dariku. Semangat yang ada dalam diri mereka lenyap sudah. Yang aku lihat adalah orang-orang lemah yang terkulai tak berdaya. Apa mungkin mereka mengadakan puasa masal?

“Kenapa kalian?” tanyaku pelan. Membuat mereka saling pandang, dan Sierra malah menangis dipelukan kekasihnya.

“Ini nggak bisa didiemin. Laras harus tahu apa yang terjadi. Laras berhak tahu.”

“Bono benar, Am. Laras kan…”

“Oke oke. Laras akan segera tahu.” Amri bergeser duduk disampingku. Yang lain juga mendekatiku hingga aku bertambah bingung. Amri melanjutkan kalimatnya kembali. Yang terakhir, tepat pada kalimat yang terakhir. Aku baru sadar kenapa mereka berubah sedrastis ini.

“Kamu inget pesawat Adam Air yang terbang di atas kepalamu waktu kita keluar bandara setelah mengantar Adam, kan? Pesawat itu nggak sampai tujuan seharusnya. Pesawat itu lenyap entah kemana…”

“Ya, biarin aja yang penting Adam-ku nggak apa-apa kan? Yang penting Adam Cuma pulang sebentar untuk kakaknya, habis itu dia balik lagi kesini. Kita bisa bareng-bareng lagi. Dan…” aku sadar akan apa yang Amri katakan baru saja. Tapi aku ingin menepisnya. Saat pelukan Sierra makin kuat.

“Tolong cobalah menerima kenyataan. Kami hanya ingin kamu siap, kalau-kalau Adam tidak mampu menepati janjinya nanti. Kalau ingin jawaban darinya akan sangat terlambat. Dan kamu harus menunggu lebih lama lagi…” dibagian inilah. Aku mulai merasa seluruh tubuhku bergetar. Hingga semuanya berubah menjadi gelap.

Dua minggu lebih Adam menghilang entah kemana. Semua orang mencarinya juga orang-orang yang bernasib sama sepertinya. Hari ini Adam genap berusia 18 tahun. Semuanya sudah siap berpesta. Sengaja aku tidak pulang ke rumah. Aku ingin disini menunggu Adam. Siapa tau ada keajaiban hingga tiba-tiba dia muncul dari ruang bawah tanah. Satu harapanku, kuucapkan di bawah senja sembari mengenggam potongan senja yang pernah diberikannya. Andai Adam-ku selamat, segera kembalikan dia dalam pelukan kami. Dan andai sebaliknya, maka terimalah dia di tempat yang terindah. Seperti tempat yang dia huni tepat di hati kami. Amin.

16 Januari 2007